Jumat, 01 Mei 2015

Knife And Rose/5 (SHINDA & SHINDY)




Created by Mila (Shinda) & Aditya (Anonymous)

Sudut Pandang Shinda

******************************************

 Bergema....

Suara teriakan Anon yg mengutuk kepergian sosok aneh tadi memecah malam.  Aku masih tak percaya pada apa yg aku lihat.  Anon memiliki perubahan bentuk tubuh yg hampir sama seperti Hysteria.

"sweety, are you okay"

 "yeah, i'm fine"
 suara Anon memecah lamunanku

 "boleh kulihat lukamu?"
Tanyaku


"ini bukan apa-apa, nanti juga tumbuh lagi"
kata Anon sambil beranjak sesaat setelah meletakkan lengan yg putus itu pada tempatnya, daging dan tulangnya langsung bereaksi dan pulih secata instan.

Tubuhku belum bisa beregerak banyak karena menggunakan Hysteria mode cukup lama.

"thanks Honey"
 suara Anon gemetar

"kau cukup kuat menahan rasa sakit, tapi kau bukan tipe pembohong yg kreatif, aku tau tidak ada yg cukup kuat untuk memutuskan lenganmu kecuali Hysteria mode milik ku"
Jelasku

"oh it's okay dear, you don't have to apologize"
katanya mencoba menenangkan ku aku tersenyum kecil

 "thats the smile"
lanjutnya sambil balas tersenyum

**************************************************

 Siang hari kami terus melanjutkan perjalanan, tidak peduli pada keramaian orang yg menatap kami seperti orang aneh. Ku gandeng tangan Anon dan terus menuntungnya kearah pinggir kota.

"hei, kau sudah menggandeng tangan ku dari tadi pagi dan kita sudah berjalan ratusan block melintasi beberapa pemukiman , kau yakin tidak ingin istirahat dulu?"

Tidak kurespon perkataan Anon dan terus saja berjalan menuntunnya menjauh dari keramaian kota. matahari mulai meredup, walau masih sore suasana di kota ini cukup gelap. dan tibalah kami di pemakaman tua ‘OWL PARK’, suasananya sepi, kabut putih membatasi penglihatan, batu nisan tua dan cabang-cabang pohon kering yg sudah tidak berdaun lagi tampak menghiasi kesunyian tempat ini

 "sebaiknya kau punya alasan masuk akal, kenapa kau mengajakku ketempat sepi membosankan ini?"
tanya Anon

 Aku masih tidak memperdulikan omongannya sambil mendekat kearahnya, Anon masih tampak bingung.

"oh we can't having sex here, Honey"
rayu Anon

“Plaaak.....!”

"hey, kenapa kau menampar ku?"
tanya Anon bingun

"dasar otak mesum, pikiran ku tidak sampai kearah situ, dasar kau"
bentak ku padanya

"jadi, apa yg kita lakukan di sini?"

"Anon, Aku takut"
keluh ku kami terdiam sesaat

Lirih angin mulai meniup dedaunan kering dan bebatuan pucat, seolah mengajak kami untuk pergi.

"belum pernah aku melihatmu sampai setakut ini, bicaralah"
katanya sambil memberi pelukan kecil dari belakangku, hangat tubuhnya bisa ku rasakan.

"aku merasa kalau pria yg semalam itu bisa mengendalikan ku"

"tapi, bagaimana bisa"
tanya Anon mulai serius

"dia menceritakan sepotong cerita menakutkan pada ku sebelum aku masuk dalam Hysteria mode"
Jelasku

"apa itu yg membuatmu sampai ketakutan seperti ini?"

"iya"
jawab ku

"baiklah ayo ceritakan, mungkin aku bisa sedikit menenangkanmu"

"saat kau sibuk dengan pasukan yg bisa hidup kembali tadi malam, dia bilang kalau aku adalah salah satu percobaan Dr.Infected yg gagal, dia juga bilang kalau Hysteria mode itu cuma kesalahan kecil yg dia buat dan harus di musnahkan, aku juga ingat pada malam terakhir kita berperang bersama R saat kau menyelinap masuk di bangunan milik baltazard, dia berpura-pura bertanya (apa kita pernah bertmu sebelumnya nona) pertanyaan itu yg aku ingat, dia tau kalau R akan membantu kita kluar dari neraka, dan kembali untuk membunuhnya"
Jelasku

"lalu bagaimana dia bisa mengendalikan Hysteria mode dan menjadikan ku target tunggal?"
tanya Anon

"dia menyanyikan lagu yg sama yg sering terdengar di kepalaku, lagu itu membuatku tidak bisa mengendalikan diri, dan di akhir lagu itu dia menyebutkan namamu, setelah itu kesadaranku hilang, dan mungkin juga itu yg membuatmu jadi target tungal dari Hysteria mode"
jelasku lagi

"lagu macam apa yg kau maksud?"

"sama seperti lagu yg aku nyanyikan sebelum memulai proses Hysteria"
Jawabku

"itu membuktikan bahwa dia tau semua tentangmu"
kata Anon dengan wajah serius

Kami masih terdiam, mencoba mememdam rasa takut ini, ternyata walau dengan tubuh orang mati, rasa takut masih bisa kami rasakan.

"We can learn to control it"
kata Anon seraya menepuk bahuku

"control what?"
Tanyaku

"your Hysteria!"
tegasnya sambil beranjak, aku terkejut dan langsung menarik tangannya

"wait wait, do you know what kind of monster who live inside of my body?"
tanyaku tegas

"itu bukan monster, itu anugrah dan kau harus bisa mengendalikannya"

"tapi bagaimana bisa, ratusan kali aku mencoba, dan hasilnya aku terbangun di tengah-tengah mayat yg bergelimpangan, bagaimana kau bisa sebut itu anugrah"
Timpalku

"anugrah atau kutukan, hanyalah masalah sudut pandang, jangan takut, tidak peduli berapa banyak serangan yg aku dapat yg penting kau harus mencobanya"
Tambah Anon

"Anon, aku tidak bisa!"

"jika ada yg bisa mengendalikan Hysteria mode, seharusnya itu kau, dan bukan mereka yg berusaha memusnahkanmu. sekarang nyanyikan lagu itu"
tegas Anon "apa, sekarang?"

"lalu kapan lagi?"
Balasnya

"kau yakin?"

"tentu saja, ayo"
ajaknya serius

TIBA-TIBA....!

Terdengar suara lain yg menyanyikan lagu itu

"Red nights, white knights, marching into the fight Drink me, shrink me, fill me to sink me”

"tunggu...siapa yg menyanyikan lagu itu"
tanyaku pada Anon

"di sana.!"
kata Anon seraya menunjuk kearah batu nisan besar dan tampak seseorang sudah berdiri di atasnya.

Pandanganku mulai buram, karena efek dari lagu itu.aku berusaha menutup telinga agar tidak terpengaruh.

"Anon......hentikan dia sebelum dia menyebut namamu di bait akhir lagu itu....!"
Pintaku

"oh shit....."

“Wuuussss....!”

Anon melempar pisau dengan rantai dan langsung menancap pada alis pria tadi, dan langsung menariknya. sesaat tubuh pria itu melayang di udara dan seketika leher pria itu sudah ada pada genggaman Anon.

"kau licik, dan pengecut, bukan kau yg aku minta untuk menyanyi tadi, paham?"
Tegas Anon yg masih mencekik leher pria itu.

“Treeeessss...! Buuukkk.....!”

Cukup jauh pria itu dilepar dan menghantam batu nisan. Di balik kabut tipis, pria itu masih bisa berdiri dan menyeka cairan merah yg menetes dari atas alisnya, dan mendekat lagi. Anon terlihat waspada sambil dengan posisi melindungiku, namun tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya, kulit pucat dengan setelan jas hitam, dan taring kecil terlihat seperti menunjukan identitas asli pria ini. Vampire, dia terus mendekat dengan santainya, dia menarik nafas panjang sebelum memulai pembicaraan.

“Haaaaaaah..... apa kalian mencium itu?, oh yeah. ini aroma rasa takut kalian, and i love this smell"
katanya masih melangkah mendekat

Aku dan Anon masih belum bisa berkata kata.

"jangan takut, tuan dan nona"
Lanjutnya

"siapa kau ini, apa kami pernah punya urusan denganmu"
tanyaku tegas

"oh, di mana sopan santunku, perkenalkan, aku Night Wish, and be careful what are you Wish for"
katanya sambil membungkuk

"go to hell, i had enogh with your bullshit"
gerutu Anon yang sudah siap menerjang

"easy, my fellow cursed, kedatanganku bukan untuk saling melukai, aku di utus oleh masterku untuk berbagi info pada kalian"
katanya dengan suara ramah

"stop joking and let's kill each other"

"tunggu Anon, sepetinya dia serius"
kataku sambil menahannya Untuk sesaat aku dan anon saling menatap, seolah memperdebatkan maksud pria ini.

"boleh aku bicara sekarang?"
tanya pria itu pada kami

"okay, go on"

Anon mempersialahkan pria itu duduk di atas sebuah batu nisan, dan memberi isyarat untuk mempersilahkan kami untuk duduk juga, Anon hanya meresponnya dengan senyum pahit

 "baiklah"
katanya sambil membuka pembicaraan

"Dr.Infected atau yg sekarang di kenal sebagai Nyctophilia, dia akan menjalankan proyek kecil. dia akan menciptakan sosok baru yg tercipta dari perpaduan DNA dan tubuh kalian berdua, jadi dia memperingatkan kalian untuk tidak mengacaukan proyek ini, dia pernah melempar pria benama Unknow R kembali ke neraka, dia tidak ingin melakukan hal yg sama pada kalian, mengerti"
Jelasnya

"Persetan dengan peringatannya, kami kembali memang untuk itu. dan katakan pada pengkhianat itu kalau kami akan seret dia keneraka bersama kami"
bentak Anon

"aku tidak tertarik untuk menghancurkan proyeknya, aku hanya ingin tau, Dari mana datangnya Hysteria ini apa dia yg menciptakannya?"tanya ku

"oh mengenai hal itu. Dulu ada dua gadis kecil kembar yg dia temukan di sebuah rumah tanpa tau siapa orangtuanya, si adik bernama Shinda dan si kakak bernama Shindy, suatu hari Shindy membunuh adiknya sendiri tanpa alasan, hari itu Shinda mati, namun Shindy sangat depresi atas kehilangan itu. Dr.infected akhirnya membuat sebuah percobaan kecil untuk menyatukan dua gadis kembar, proses pencangkokan yg rumit sudah dilakukan, akhirnya Shinda hidup kembali dengan ingatannya sendiri tapi dia tidak pernah tau kalau dia hidup dengan Tubuh kakaknya, dia juga tidak bisa mengendalikan kepribadian brutal Shindy"
Jelasnya

"Shindy?"
Batinku

Sesaat Anon memandangiku keheranan, seolah dia bisa melihat seseorang yg lain tinggal di dalam tubuhku.

"kau sudah selesai?"
tukas Anon

"ya, aku rasa aku sudah selesai"
katanya sambil beranjak

"tunggu"

"ada apa Nona?"

"kenapa dia membenci Hysteria mode?"
tanyaku serius

"Hysteria mode terlalu merepotkan baginya, hanya makhluk selain manusia yg bisa mengendalikan monster itu, bahkan penciptamu tidak bisa, hanya aku orang yg dia pilih untuk mengendalikan Hysteria mu"
Jawabnya

"jadi orang-orang yg selama ini terus memburu kami, hanya umpan untuk memancing Hysteria keluar?"
bentak Anon

"hahahha itu hanya hadiah kecil yg di berikan Masterku bagi siapa saja yg bisa memburu kalian, mungkin saat kalian bercermin, bayangan kalian akan mencekik kalian untuk hadiah itu hahaha"
katanya sambil beranjak

"bisa kita saling membunuh sekarang?”
tanya Anon geram

"maaf, mungkin di pertemuan selanjutnya, until we meet again my fellow cursed"

“BOOOOOFFFFF......!”

Tubuh pria itu langsung melebur menjadi asap berwarna ungu, dan hilang bersama agin malam. Aku masih terpaku pada perkataan pria tadi, seseorang telah tercipta dari bagian tubuh Aku dan Anon.

"Dear?"
suara Anon membuyarkan lamunanku lagi

"yes"
jawabku singkat

"kau harus lihat ini"
kata Anon mencoba menunjukan ku sesuatu

Dari balik kabut tipis muncul sekelompok makhluk yg sebelumnya sempat di hadapi Anon.

"ya ampun siapa lagi mereka ini?"
Tanyaku

"ini pasukan yg tidak bisa mati, yang aku lawan tadi malam"
jawab Anon bersiap

"mungkin ini salah satu dari pasukan buatan milik Nycto"

"entahlah"

“Huuuaaaaa.....!”

"ooh shit...."

“Bruuukkk......!”

Salah satu dari mereka berasil menyergap Anon dan memojokannya di sudut pagar pemakaman.

"Anon...!"

Suara teriakanku mugkin sudah tidak bisa didengarnya lagi terdesak dan aku terus menghindar sambil mencoba mencari-cari posisi Anon

“Arrrghh.....!”
suara Anon terdengar.

“Buuukkkk....!”

Sosok mahkluk terlempar melewati kabut tipis tepat di atas kepalaku. Hyper mode milik Anon mungkin sudah aktif, namun aku masih ragu untuk memulai Hysteria. Aku terus berlari menghindari lemparan benda tajam dari mereka. Kini aku sudah terpisah jauh dari Anon yang masih di area pemakaman, sedangkan aku masih di kejar cukup jauh hingga taman kota. Mereka sudah cukup jauh di belakangku, disini aku bersiap untuk Hysteria sambil memastikan tidak ada yg melihatku.

"baiklah ayo kita mulai lagi"

“RED NIGH...”

Sepintas kulihat gadis kecil sedang asik duduk di atas ayunan taman. Kuhentikan nyanyian itu karena tidak ingin menakutinya. Aku sadar beberapa makhluk tadi masih mengejarku, lalu ku bawa gadis itu bersembunyi. Wajah cemas terukir di wajah anak ini, hal yg pertama aku pikirkan kenapa ada orang tua yang tega meninggalkan anaknya di tengah malam seperti ini?
Kurapatkan jari telunjukku ke bibir memberi isyarat pada anak ini untuk tidak bersuara, dia mengagguk paham, tidak ada tanda-tanda dari kelompok yg mengejar ku, sambil memastikan keadaan aman, gadis kecil ini terus menatapku.

"ke mana orangtuamu gadis kecil?"
tanya ku seraya membungkuk

Dia hanya menggeleng dan menunjuk kearah pemakaman, tempat kutinggalkan Anon di sana, saat aku menenggok kearah sana, asap hitam sudah membumbung tinggi berpadu cahaya merah, pikiranku mulai tidak tenang, aku menoleh lagi pada gadis itu namun dia sudah tidak di sana, dia pergi begitu saja atau lenyap bersama malam.

"oh...sudahlah"
aku langsung pergi dari tempat itu karena Red nights mencemaskan Anon.

BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar