Created by Aditya(Anonymous) & Mila(Shinda)
Sudut Pandang Anonymous
***************************************************
“HUAAAARRGGGHHHH”
Manusia manusia sialan itu menyerangku dengan beringas
dan mereka seperti melakukan itu tanpa ada rasa sakit yang mereka rasakan
disetiap luka yang kubuat, setiap aku membunuh satu dari mereka akan tumbuh 2
dari mereka ya memang mungkin terdengar sangat tidak masuk akal tapi itulah
yang terjadi
“sialan kalian!!!!”
“BRUAKKK......CRESSSTTT............BRUUUKKK.......ARGGHHHHH...”
Banyak potongan tubuh yang tersebar tapi tak lama bagian itu akan bersatu kembali dan menjadi manusia utuh lagi,sudah kucoba untuk menebas dan menendang anggota tubuh mereka tapi tetap saja mereka bersatu kembali
“Sialan kau Nycto, kau membuat monster yang seperti ini”
Batinku
Tanpa kusadari salah satu dari mereka dapat menusuk tepat
kearah jantungku, aku terdorong beberapa langkah sebelum jatuh ketanah,
“BRUUUUGHHHH”
Tubuhku tergeletak lemas tapi para manusia bodoh itu
tetap saja menyerang tubuhku dengan senjata mereka, entah sudah ada berapa luka
yang ada ditubuhku ini yang kutahu hanyalah tubuhku yang semakin lama semakin
melemas
“Shinda dimana kau”
Ucapku lirih
"Red nights,
white knights, marching into the fight Drink me, shrink me, fill me to sink
me"
Terdengar suara lagu yang sangat tidak asing di
telingaku, kucoba untuk membuka mata dan melihat dari balik celah manusia
manusia yang berusaha membunuhku ini, terlihat siluet gadis dengan bayangan
hitam yang sudah mengudara, hawa menjadi lebih panas dan para manusia itu
beralih melihat kearah gadis itu
"Red nights,
white knights, marching into the fight Drink me, shrink me, fill me to sink
me"
“Shinda thanks for comin’”
Udara berkabut mulai hilang dan awan hitam mulai memenuhi
langit, suara petir yang menggelegar menambah seru pertarungan ini, terlihat
Shinda sudah hampir mencapai titik maksimalnya yang juga sebuah isyarat bagiku
untuk pergi dari sini. Aku mencoba menjauh kearah batu nisan dan mengistirahatkan
tubuhku yang lemah ini, dari jauh dapat kulihat Shinda bergerak tak terkendali
melawan banyaknya manusia ciptaan Nycto yang mencoba menyerangnya, dapat
kurasakan serunya adrenalin pertarungan itu dapat kurasakan aroma darah yang
berjatuhan dapat kudengar suara potingan tubuh dan isi perut yang keluar dari
tubuh manusia, ah nikmatnya
“ayolah Anon kau kuat, jangan biarkan gadis yang kau
cintai itu mati karena mode Hysterianya yang tak terkendali itu”
Walau aku tahu mungkin aku juga akan diserang oleh Shinda
disana tapi itu semua akan kuterima karena jika aku mati setidaknya aku dibunuh
oleh orang yang kucintai itu.
Kukumpulkan kekuatanku, kucoba untuk melupakan apapun
tentang luka ini aku hanya bertumpu pada satu hal saat ini........ ya dendam,
dapat kurasakan tubuhku memanas, kepalaku berkobar api, mata yang menyala
seperti api, mulut yang terus menerus tersenyum dan inilah aku sekarang
“HAHAHAHAHAHAHAHHAHAHAHAHAHA.............”
“HWAHAHAHAHAHAHAHAHHHHAHAHA......”
Tawaku sudah tidak bisa kutahan lagi, kutarik cambukku
dan berlari kearah Shinda yang juga sudah berada dalam Hysteria modenya, kucoba
menghindari serangannya dan menyerang manusia bodoh disana, kuayunkan cambukku
dan ku lemparkan beberapa pisau kearah mereka semua walau aku tahu semua serangan
itu tidak ada gunanya
“BUUUUUGHHHHHH”
Tinju Shinda tepat mengenai tengkorakku, kulihat dia
tidak memperdulikan lagi kemana arah serangannya mendarat yang dia tahu hanya
bunuh semua yang dia lihat
“Damn, aku harus lebih hati hati”
Kucoba untuk berbalik menyerang Shinda walau bukan itu
yang kau maksudkan sebenarnya, aku hanya ingin memberitahunya kalau aku bukan musuhnya,
tapi itu sia sia dia malah mencoba menusukku dan menebas lenganku lagi, dengan
sigap kuhalau semua serangannya dan menendang tubuhnya menjauh, kubiarkan dia
beberapa saat dan kembali menyerang orang orang tak berguna itu
“sial aku hanya bisa membunuh mereka dengan cara yang
sama seperti dulu”
Batinku
“tapi aku tidak bisa melakukan itu karena ada Shinda
disini, dia juga bisa mati”
Shinda bangun lagi dan dia menatap tajam kearahku, dia
mengambil senjatanya dan bergerak menyerangku dengan kecepatannya
“oh shit i dont have a choise”
Kuambil cambukku dan berlari kearah Shinda dapta
kurasakan dia menyayatku dengan pisaunya ketubuhku tapi tetap saja kubiarkan
aku ingin mengetahui apa dia benar benar bisa membunuhku
“CREEEEESSTTTTT.............”
Pisaunya tepat mengenai
lenganku, Shinda menarik lepas pisaunya yang diikuti dengan tertariknya lengan
kiriku lepas
“CROOOOOCKKKK.............ARGGHHHHHH”
Sakit hanya itu yang dapat
kurasakan, Shinda tidak berhenti sampai situ dia tetap berlari menyerangku, dan
aku tahu jika aku biarkan dia bisa benar benar membunuhku
“im sorry honey i must to do
this”
Ucapku
Kuayunkan cambukku kearahnya,
terlihat dia tetap berlari meskipun terkena panasnya cambukku, terlihat dari
matanya dia tidak menginginkan hal ini terjadi tapi dia tidak bisa melawan
tubuhnya sendiri
“maaf”
Kutancapkan pisauku ketanah
dan berlari mengitari daerah sekitar Shinda, dan segera kucabut pisau itu yang
mengakibatkan ledakan besar didalamnya
“BOOOOOOOOOOOOMMMMMMMMMMM”
Darah dan potongan tubuh
berhamburan keluar, terlihat Shinda terbaring lemas seperti dulu saat aku
melawannya, kudekati dia dan terlihat dia sudah kembali normal seperti sedia
kala, kucoba untuk menggerak gerakkan tubuhnya tapi tidak ada respon, kucoba
untuk memeriksa denyut nadinya juga tidak terasa apapun, kuperiksa nafasnya dan
tidak ada nafas satupun yang kurasakan
“tidak.......tidak......tidak”
“kenapa....kumohon jangan”
Dari jauh terlihat Night Wish
berjalan kearahku, dari wajahnya terbesit wajah senang atas keadaanku saat ini,
dia berdiri tepat beberapa meter didepanku
“oh sungguh malang seorang
lelaki yang ditinggal mati oleh pacarnya hahahahahahaha”
Ucapnya
“dan bagian paling mengagumkan
adalah dia sendiri yang membunuh pacarnya itu”
Lanjutnya
Aku bangkit dan segera meninju
mulutnya yang kurang ajar itu, dia dengan mudahya menghindar dan balas memukul
wajahku dengan mudahnya
“BRAAAKKK”
“oh apa yang terjadi kepadamu
kau tidak terlihat sesemangat dulu”
“sialan kau”
Kukeluarkan senjataku dan
kulemparkan tepat kearah jantungnya
“CROOOCKKKKKK.....AARGGHHH”
“rasakan itu”
Ucapku
“hahahahahahaha kau kira aku
ini manusia yang bisa kau bunuh oleh benda semacam ini hah?”
Ejeknya
Aku lupa kalau dia bukan
makhluk yang mudah untuk dibunuh, kucoba untuk menyerangnya lagi tapi setiap
aku mencoba setiap kali itu jugalah aku terjatuh
“BRAAAAAKK”
“sudahlah kau jangan
menggangguku lagi, serahkan saja tubuh Shinda dan aku akan pergi dari sini”
Ucapnya
“NEVER!!!!!!!!!!”
Aku bangkit dan menendang
jatuh tubuhnya, kutancapkan berulang kali pisauku ketubuhnya tapi dia hanya
merespon dengan sebuah tawa ejekan, dengan satu tendangan tubuhku ambruk tepat
disamping tubuh Shinda
“hah, ternyata kau selemah
dulu, sudahlah minggir dari jalankku”
“not so fast asshole”
Ucap seseorang yang tiba tiba
muncul dari belakang
Dia menancapkan pisaunya yang
berlapis perak itu tepat dijantung dari Night Wish, dapat kulihta tubuhnya
melebur menjadi debu dan dengan mudahnya tersapu oleh angin malam ini.
Kuperhatikan siapa yang telah membunuhnya dan ternyata itu.............
“UNKNOWN R YOU BACK!!!!!!!”
“ya kau tahu gunung yang
kutunjukkan dineraka itu tiba tiba meletus dan aku punya firasat buruk
tentangmu jadinya aku kembali untuk kalian”
Jelasnya
“tapi apakah kau bisa menolong
Shinda”
Ucapku
“kenapa?”
“waktu dia berubah menjadi
Hysteria mode aku meledakkannya untuk menyadarkkannya tapi itu malah membuat
dirinya terbunuh”
“jadi kau menyuruhku untuk
membangkitkan dirinya, begitu”
“ya tolonglah”
R berjalan kearah Shinda, dia
memegan denyut nadi dan mengeluarkan sesuatu dari bajunya seperti kantong tapi
aku tidak tahu apa isinya
“Anon kemarilah”
Suruhnya
“ada apa”
Tanyaku
“dia hanya bisa dibangkitkan
dengan nyawa orang lain dan aku hanya memiliki setengahnya, jadi apa kau mau”
“ambil saja setengah dari
nyawaku!!”
Perintahku
“apa kau tidak takut?”
“tidak ada lagi yang aku
takutkan sekarang, jadi cepat ambillah”
Ucapku
“baiklah tapi efeknya kau
tidak akan bertahan hidup lebih dari seminggu”
“kuambil resiko itu sekarang
cepat bangkitkan dia”
“baiklah jika kau memaksa”
R melakukan ritual kecil yang
aku tidak tahu apa tapi sedikit demi sedikit aku merasakan tubuhku kehilangan
kesadaran tapi aku masih bisa menahannya dan tak lama Shinda bangun
“Owh.... R!!!! Kau kembali”
Ucapnya
“ya”
“lalu dimana Anon”
“tepat dibelakangmu”
“hai Shinda”
Ucapku
“Anon, kau tidak apa? Wajahmu
terlihat pucat”
Risaunya
“tidak aku tidak apa hanya sedikit
kecapekan”
Ucapku bohong
Taklama terdengar suara gadis
menangis yang asalnya dari salah satu batu nisan, dan terlihat seorang gadis
kecil yang sedang menangis disana
“oh gadis itu lagi”
BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:
Posting Komentar