Jumat, 01 Mei 2015

Knife And Rose/6 (Hyper & Hysteria)




Created by Aditya(Anonymous) & Mila(Shinda)

Sudut Pandang Anonymous

***************************************************

“HUAAAARRGGGHHHH”

Manusia manusia sialan itu menyerangku dengan beringas dan mereka seperti melakukan itu tanpa ada rasa sakit yang mereka rasakan disetiap luka yang kubuat, setiap aku membunuh satu dari mereka akan tumbuh 2 dari mereka ya memang mungkin terdengar sangat tidak masuk akal tapi itulah yang terjadi

“sialan kalian!!!!”

“BRUAKKK......CRESSSTTT............BRUUUKKK.......ARGGHHHHH...”


Banyak potongan tubuh yang tersebar tapi tak lama bagian itu akan bersatu kembali dan menjadi manusia utuh lagi,sudah kucoba untuk menebas dan menendang anggota tubuh mereka tapi tetap saja mereka bersatu kembali

“Sialan kau Nycto, kau membuat monster yang seperti ini”
Batinku

Tanpa kusadari salah satu dari mereka dapat menusuk tepat kearah jantungku, aku terdorong beberapa langkah sebelum jatuh ketanah,

“BRUUUUGHHHH”

Tubuhku tergeletak lemas tapi para manusia bodoh itu tetap saja menyerang tubuhku dengan senjata mereka, entah sudah ada berapa luka yang ada ditubuhku ini yang kutahu hanyalah tubuhku yang semakin lama semakin melemas

“Shinda dimana kau”
Ucapku lirih

"Red nights, white knights, marching into the fight Drink me, shrink me, fill me to sink me"

Terdengar suara lagu yang sangat tidak asing di telingaku, kucoba untuk membuka mata dan melihat dari balik celah manusia manusia yang berusaha membunuhku ini, terlihat siluet gadis dengan bayangan hitam yang sudah mengudara, hawa menjadi lebih panas dan para manusia itu beralih melihat kearah gadis itu

"Red nights, white knights, marching into the fight Drink me, shrink me, fill me to sink me"

“Shinda thanks for comin’”

Udara berkabut mulai hilang dan awan hitam mulai memenuhi langit, suara petir yang menggelegar menambah seru pertarungan ini, terlihat Shinda sudah hampir mencapai titik maksimalnya yang juga sebuah isyarat bagiku untuk pergi dari sini. Aku mencoba menjauh kearah batu nisan dan mengistirahatkan tubuhku yang lemah ini, dari jauh dapat kulihat Shinda bergerak tak terkendali melawan banyaknya manusia ciptaan Nycto yang mencoba menyerangnya, dapat kurasakan serunya adrenalin pertarungan itu dapat kurasakan aroma darah yang berjatuhan dapat kudengar suara potingan tubuh dan isi perut yang keluar dari tubuh manusia, ah nikmatnya

“ayolah Anon kau kuat, jangan biarkan gadis yang kau cintai itu mati karena mode Hysterianya yang tak terkendali itu”

Walau aku tahu mungkin aku juga akan diserang oleh Shinda disana tapi itu semua akan kuterima karena jika aku mati setidaknya aku dibunuh oleh orang yang kucintai itu.
Kukumpulkan kekuatanku, kucoba untuk melupakan apapun tentang luka ini aku hanya bertumpu pada satu hal saat ini........ ya dendam, dapat kurasakan tubuhku memanas, kepalaku berkobar api, mata yang menyala seperti api, mulut yang terus menerus tersenyum dan inilah aku sekarang

“HAHAHAHAHAHAHAHHAHAHAHAHAHA.............”

“HWAHAHAHAHAHAHAHAHHHHAHAHA......”

Tawaku sudah tidak bisa kutahan lagi, kutarik cambukku dan berlari kearah Shinda yang juga sudah berada dalam Hysteria modenya, kucoba menghindari serangannya dan menyerang manusia bodoh disana, kuayunkan cambukku dan ku lemparkan beberapa pisau kearah mereka semua walau aku tahu semua serangan itu tidak ada gunanya

“BUUUUUGHHHHHH”

Tinju Shinda tepat mengenai tengkorakku, kulihat dia tidak memperdulikan lagi kemana arah serangannya mendarat yang dia tahu hanya bunuh semua yang dia lihat

“Damn, aku harus lebih hati hati”

Kucoba untuk berbalik menyerang Shinda walau bukan itu yang kau maksudkan sebenarnya, aku hanya ingin memberitahunya kalau aku bukan musuhnya, tapi itu sia sia dia malah mencoba menusukku dan menebas lenganku lagi, dengan sigap kuhalau semua serangannya dan menendang tubuhnya menjauh, kubiarkan dia beberapa saat dan kembali menyerang orang orang tak berguna itu

“sial aku hanya bisa membunuh mereka dengan cara yang sama seperti dulu”
Batinku

“tapi aku tidak bisa melakukan itu karena ada Shinda disini, dia juga bisa mati”

Shinda bangun lagi dan dia menatap tajam kearahku, dia mengambil senjatanya dan bergerak menyerangku dengan kecepatannya

“oh shit i dont have a choise”

Kuambil cambukku dan berlari kearah Shinda dapta kurasakan dia menyayatku dengan pisaunya ketubuhku tapi tetap saja kubiarkan aku ingin mengetahui apa dia benar benar bisa membunuhku

“CREEEEESSTTTTT.............”
Pisaunya tepat mengenai lenganku, Shinda menarik lepas pisaunya yang diikuti dengan tertariknya lengan kiriku lepas

“CROOOOOCKKKK.............ARGGHHHHHH”

Sakit hanya itu yang dapat kurasakan, Shinda tidak berhenti sampai situ dia tetap berlari menyerangku, dan aku tahu jika aku biarkan dia bisa benar benar membunuhku

“im sorry honey i must to do this”
Ucapku

Kuayunkan cambukku kearahnya, terlihat dia tetap berlari meskipun terkena panasnya cambukku, terlihat dari matanya dia tidak menginginkan hal ini terjadi tapi dia tidak bisa melawan tubuhnya sendiri

“maaf”

Kutancapkan pisauku ketanah dan berlari mengitari daerah sekitar Shinda, dan segera kucabut pisau itu yang mengakibatkan ledakan besar didalamnya

“BOOOOOOOOOOOOMMMMMMMMMMM”

Darah dan potongan tubuh berhamburan keluar, terlihat Shinda terbaring lemas seperti dulu saat aku melawannya, kudekati dia dan terlihat dia sudah kembali normal seperti sedia kala, kucoba untuk menggerak gerakkan tubuhnya tapi tidak ada respon, kucoba untuk memeriksa denyut nadinya juga tidak terasa apapun, kuperiksa nafasnya dan tidak ada nafas satupun yang kurasakan

“tidak.......tidak......tidak”

“kenapa....kumohon jangan”

Dari jauh terlihat Night Wish berjalan kearahku, dari wajahnya terbesit wajah senang atas keadaanku saat ini, dia berdiri tepat beberapa meter didepanku

“oh sungguh malang seorang lelaki yang ditinggal mati oleh pacarnya hahahahahahaha”
Ucapnya

“dan bagian paling mengagumkan adalah dia sendiri yang membunuh pacarnya itu”
Lanjutnya

Aku bangkit dan segera meninju mulutnya yang kurang ajar itu, dia dengan mudahya menghindar dan balas memukul wajahku dengan mudahnya

“BRAAAKKK”

“oh apa yang terjadi kepadamu kau tidak terlihat sesemangat dulu”

“sialan kau”

Kukeluarkan senjataku dan kulemparkan tepat kearah jantungnya

“CROOOCKKKKKK.....AARGGHHH”

“rasakan itu”
Ucapku

“hahahahahahaha kau kira aku ini manusia yang bisa kau bunuh oleh benda semacam ini hah?”
Ejeknya

Aku lupa kalau dia bukan makhluk yang mudah untuk dibunuh, kucoba untuk menyerangnya lagi tapi setiap aku mencoba setiap kali itu jugalah aku terjatuh

“BRAAAAAKK”

“sudahlah kau jangan menggangguku lagi, serahkan saja tubuh Shinda dan aku akan pergi dari sini”
Ucapnya

“NEVER!!!!!!!!!!”

Aku bangkit dan menendang jatuh tubuhnya, kutancapkan berulang kali pisauku ketubuhnya tapi dia hanya merespon dengan sebuah tawa ejekan, dengan satu tendangan tubuhku ambruk tepat disamping tubuh Shinda

“hah, ternyata kau selemah dulu, sudahlah minggir dari jalankku”

“not so fast asshole”
Ucap seseorang yang tiba tiba muncul dari belakang

Dia menancapkan pisaunya yang berlapis perak itu tepat dijantung dari Night Wish, dapat kulihta tubuhnya melebur menjadi debu dan dengan mudahnya tersapu oleh angin malam ini. Kuperhatikan siapa yang telah membunuhnya dan ternyata itu.............

“UNKNOWN R YOU BACK!!!!!!!”

“ya kau tahu gunung yang kutunjukkan dineraka itu tiba tiba meletus dan aku punya firasat buruk tentangmu jadinya aku kembali untuk kalian”
Jelasnya

“tapi apakah kau bisa menolong Shinda”
Ucapku

“kenapa?”

“waktu dia berubah menjadi Hysteria mode aku meledakkannya untuk menyadarkkannya tapi itu malah membuat dirinya terbunuh”

“jadi kau menyuruhku untuk membangkitkan dirinya, begitu”

“ya tolonglah”

R berjalan kearah Shinda, dia memegan denyut nadi dan mengeluarkan sesuatu dari bajunya seperti kantong tapi aku tidak tahu apa isinya

“Anon kemarilah”
Suruhnya

“ada apa”
Tanyaku

“dia hanya bisa dibangkitkan dengan nyawa orang lain dan aku hanya memiliki setengahnya, jadi apa kau mau”

“ambil saja setengah dari nyawaku!!”
Perintahku

“apa kau tidak takut?”

“tidak ada lagi yang aku takutkan sekarang, jadi cepat ambillah”
Ucapku

“baiklah tapi efeknya kau tidak akan bertahan hidup lebih dari seminggu”

“kuambil resiko itu sekarang cepat bangkitkan dia”

“baiklah jika kau memaksa”

R melakukan ritual kecil yang aku tidak tahu apa tapi sedikit demi sedikit aku merasakan tubuhku kehilangan kesadaran tapi aku masih bisa menahannya dan tak lama Shinda bangun

“Owh.... R!!!! Kau kembali”
Ucapnya

“ya”

“lalu dimana Anon”

“tepat dibelakangmu”

“hai Shinda”
Ucapku

“Anon, kau tidak apa? Wajahmu terlihat pucat”
Risaunya

“tidak aku tidak apa hanya sedikit kecapekan”
Ucapku bohong

Taklama terdengar suara gadis menangis yang asalnya dari salah satu batu nisan, dan terlihat seorang gadis kecil yang sedang menangis disana

“oh gadis itu lagi”

BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar