Created by : Aditya (Anonymous) & Mila (Shinda)
Sudut pandang Anonymous
***************************************************
Aku dan Shinda mulai berjalan menyusuri jalan setapak yang
makin lama membawakami masuk kedalam hutan, terdengar suara beberapa binatang
yang seperti menyambut kedatangan kami di dunia ini lagi, hawa dingin dan juga
sunyi ini seperti tidak dapat kurasakan lagi mungkinkah ini efek dari siksaan
yang kudapatkan dineraka tadi ah tapi sudah tidak aku pikirkan lagi tentang hal
itu, kulirik Shinda yang berada disampingku dapatku lihat raut wajah seperti
cemas yang terukir diwajahnya, tapi memang tak bisa kubohongi diriku ini
wajahnya memang begitu menawan dan membuat jiwaku tenang, ah tidak mungkin aku
ini pembunuh tidak mungkin ada perasaan seperti ini.
“SREEEKKK...........SREEKKK”
Suara seretan mengagetkanku dan Shinda, kucoba merangkak pelan keara semak semak dan mencoba melihat apa itu, dapat kulihat sekumpulan orang yang terlihat seperti sebuah geng sedang nongkrong disana dan dapat terlihta mereka seperti mabuk dan salah satunya terlihat membawa mayat seseorang
“hey broo... liat nih apa yang gue bawa”
Ucap orang yang membawa mayat itu
“gila lu brooo serem amat tuh mayat hahahahahaha”
Sahut salah satunya
“ye ini mah gk ada apa apanya broo.... gue tuh emang
pembunuh handal gk ada yang bisa bunuh gue hahahahahaha”
Aku sempat tersulut akan ucapannya yang mengaku sebagai
pembunuh terbaik, sempat aku ingin kesana tapi dihentikan oleh Shinda
“hei kau mau kemana?”
Tanyanya
“aku ingin menunjukkan kepada mereka sebuah pelajaran”
Ucapku
“sebaiknya kita jangan menghadapi mereka, hanya membuat kita
mengulur waktu aja”
Ucapnya
“kau takut?”
Tanyaku
“hah kenapa juga aku takut dengan para amatir itu”
Jawabnya semangat
“kalau begitu lepaskan tanganmu dan biarkan aku kesana”
“kau tidak boleh kesana tanpaku”
“baik sekarang lepaskan tanganmu itu dan kita kesana”
Perintahku
Shinda melepaskan tangannya dan kami dengan cepat keluar
dari persembunyian kami, terlihat beberapa orang kaget akan kehadiran kami dan
terlihat bingung
“hei anak muda kalian tersesat atau apa??”
Tanya salah satunya
“heh, aku hanya mampir dan ingin memberi kalian sedikit
pelajaran”
Jawabku
“hahahahahaha, kalian memang bodoh ya”
“tapi yang cewek lumayan tuh, hehehehe neng kayaknya neng
harus cari cowok baru deh soalnya cowok neng bakalan mati kalo ngadepin kita
semua, kalo neng mau saya juga mau hahahahahahahaha”
Goda salah satu dari mereka
Kulihat wajah Shinda memerah entah karena malu atau marah tapi
segera kubisikkan sesuatu dan kuberikan pisauku
“just kill them”
Kulihat Shinda tersenyum sinis dan segera berjalan kearah
para manusia bodoh disana, kulihat dia sudah hampir mengeluarkan mode
hysterianya dan dapat kutebak setelah ini akan terjadi apa
“wih kayaknya mau tuh cewek ama kita hahahahahahaha”
Aku hanya tersenyum mendengarnya, mereka tidak akan tahu
kalau kematian sudah didepan mata mereka, terlihat Shinda sudah bersiap siap
menyerang dan salah satu dari mereka mencoba mendekatinya, dengan satu serangan
kepala orang itu putus dari kepalanya yang disusul oleh suara teriakan teman
temannya, Shinda tetap menyerang mereka dengan penuh amarah yang disusul oleh
berhamburannya potonan tubuh dan juga isi perut yang terlempar keluar.
Kunikmati pemandangan yang indah ini tapi tanpa kusadari Shinda sudah selesai
dengan tugasnya dan berlari kearahku, dapat kulihat dari matanya masih terlihat
amarah yang membara ya dia masih dalam mode hysteria
“owhh shit”
Ucapku sambil berlari menghindar
Shinda tanpa ampun berusaha menyerangku secepat kilat tapi
untungnya masih dapat kuhindari, tanpa sengaja aku menampar Shinda yang
mengakibatkannya terlempar kesamping dia terlihat diam dan tidak bergerak sama
sekali, aku segera mendekatinya dan berusaha menyadarkannya
“ouuhh.... apa yang terjadi”
“oh untunglah dia sudah tidak dalam mode hysteria itu”
Batinku
“tidak tidak ada apa apa kau hanya membunuh 10 orang tanpa
kau sadari dan kau pingsan”
Ucapku bohong
“sudahlah ayo kita lanjutkan perjalanan”
Ajakku
Kami segera pergi dari tempat itu dan berjalan kearah desa
terdekat untuk mendapatkan beberapa makanan dan juga senjata untuk Shinda,
beberapa orang memandang kami dengan tatapan aneh seperti melihat iblis tapi
tidak kupedulikan itu
“hei nak kalian mau pergi kemana?”
Tanya seorang polisi kepadaku
“kami hanya berjalan jalan”
Jawab Shinda
“sebaiknya kalian pulang karena akhir akhir ini terdapat
seorang Psycho yang berkeliaran disekitar daerah ini”
Jelasnya
“apakah dia memakai baju dokter dan membawa banyak suntik
dijaketnya?”
Tanyaku
“ya kau benar, apakah kau mengenalnya?”
Tanya polisi itu
“oh tidak kami hanya mendengar dari beberapa orang dijalan
tadi”
Jawab Shinda bohong
“oh begitu baiklah sebaiknya kalian pulang karena disini
berbahaya”
“baiklah pak”
Ucap Shinda sambil tersenyum manis
Kami segera meninggalkan polisi itu dan berjalan menuju
sebuah gudang tua
“hei aku kira kau tidak bisa bersifat seperti manusia”
Ucapku
“heh aku hanya berkata begitu agar dia tidak curiga dengan
kita, lagian juga aku dapatkan pisaunya”
Ucap Shinda menunjukkan pisau yang dia dapatkan
“ternyata kau pintar juga ya”
Pujiku
“ya setidaknya lebih pintar darimu”
Ledeknya
“DUUUMMM...........DHUAAARR”
Suara petir mengagetkan kami, seperti akan terjadi badai
besar nanti
“Shinda sebaiknya kita segera masuk kedalam sepertinya akan
turun hujan badai disini”
Ajakku
“baik ayo”
“KRIIEEKKKK”
Seketika bau busuk bangkai binatang menyeruak masuk kehidung
kami, sepertinya tempat ini dulu adalah bekas penjagalan hewan.
“UHFF...... sial baunya sangat tajam”
Ucapku
“SYUUUTT....CROOOCKKK”
“AHHHHH!!!”
Sebuah pisau terlempar tepat kearah bahuku yang juga
disertai munculnya sesosok manusia dengan jubah hitamnya dan juga topi
tingginya
“KAUU!!!!......SIALAN KAU!!!”
Bersambung

Tidak ada komentar:
Posting Komentar