3 years later...
Setelah keadaan negara
Indonesia kembali aman dari virus dan sisa sisa mayat sudah dibersihkan para
survivor yang selamat dikembalikan ke negaranya.
"After all, finally we
can go home"
Ucap Dicky
Ucap Dicky
"Yup 3 tahun sudah
berlalu dan serasa sangat kangen dengan keadaan negara sendiri"
Sahut Danang
Sahut Danang
"Ya walaupun tidak
akan ada yang menyambut kita disana"
Lanjut Irma
Lanjut Irma
"Setidaknya kita bisa
pulang"
Ucapnya lagi
Ucapnya lagi
"Semua warga
kebangsaan indonesia diharapkan segera menuju pesawat"
"Hoy Ir, malah
ngelamun ayo ntar ditinggal lho"
Sergah Dicky mengagetkan
Sergah Dicky mengagetkan
"Eh iya iya
tunggu!"
Semua yang berasal dari
Indonesia sudah masuk didalam pesawat, hampir semua kursi penuh tapi untunglah
kami masih kebagian tempat duduk.
"Huft akhirnya dapet
juga"
Ucap Danang
Ucap Danang
"Kamu sih Ir pake
acara ngelamun segala, untung kita masih dapat tempat duduk"
Lanjutnya
Lanjutnya
"Hehe maaf maaf"
"Just enjoy the flight
guys"
Kata Dicky
Kata Dicky
"Wuih si anjeg
sekarang gaya pake bahasa inggris terus, mentang mentang udah 3 tahun disini
dan punya pacar orang sini juga, udah lupa kamu sama yang jadi zombie di
indonesia dulu"
Ucap Danang menggoda Dicky
Ucap Danang menggoda Dicky
"Hahaha shut up, yang
lalu biarlah berlalu ya kali aku mau pacaran sama zombie hahaha"
"Dasar playboy"
Ucap Danang
Ucap Danang
Disaat kedua orang itu
beradu mulut, Irma hanya duduk diam dan memandangi keluar jendela pesawat yang
mulai terbang kembali ke Indonesia. Pikirannya sepertinya agak memikirkan
sesuatu atau juga mengingat kejadian 3 tahun lalu yang sudah merenggut 4 orang
temannya.
"DOOR....DUAAR....BOOOM"
"Lari dari sini!...
cepat pergi!"
"HUAAARGGGH"
"Ayo lebih
cepat!"
"BOOOM.....BRUAAK"
"Maafkan aku"
"GRRRRR"
"Hey lihat apa yang kutemukan"
"BRRRUUAAARR"
"AAHHHHHH"
"DOOOMMM"
"Nyawa ratusan orang
lebih berharga dari pada satu orang. Cepat pergi!"
"Hoy ngelamun lagi ni
anak"
Dicky membangunkan Irma dari lamunannya tentang kejadian 3 tahun lalu
Dicky membangunkan Irma dari lamunannya tentang kejadian 3 tahun lalu
Dengan wajah masih bingung
dia berusaha mengatur duduknya.
"Aku berpikir apa
kejadian 3 tahun lalu akan terulang kembali"
"Hey berpikirlah
secara positif, jika kau berpikiran negatif ya yang terjadi mungkin akan
negatif juga"
Ucap Dicky
Ucap Dicky
"Udahlah kita juga
sudah sampai, ayo turun"
Ajak Danang
Ajak Danang
"Okey ayo"
Kami semua turun dari
pesawat dan berjalan menuju dalam bandara, terlihat masih banyak sisa sisa
darah, pagar yang rusak dan juga bekas ledakan.
"Dick ini bandara
dimana kita berangkat dulu ya?"
Tanya Irma
Tanya Irma
"Ya, kita langsung
diterbangkan kesini jadi aku juga gak sempat tanya kita akan turun di bandara
mana, karena aku tau disini Adit meledakkan dirinya untuk kita semua"
"BOOOOM DAR DAR
DAR"
"Nyawa ratusan orang
lebih berharga daripada satu! Cepat pergi!"
"Hey hey sadar ayo
kita pergi dari tempat ini"
Danang menyadarkan Irma
dari lamunannya lagi dan sesegera mungkin berjalan kedalam bandara. Sesosok
siluet sempat terlihat oleh ekor mata Irma dari balik semak semak, tapi kedua
temannya yang lain tidak mengetahui hal itu.
"Welcome"
***
"Ah akhirnya kita bisa
kembali lagi ditempat kita lahir"
Ucap Danang senang
Ucap Danang senang
"Nah masalahnya
sekarang kita gak ada kendaraan yang jemput atau apa?"
Timpal Dicky
Timpal Dicky
"Hey tenanglah lihat
tuh disana kita sudah disediakan bis"
tunjuk Irma
tunjuk Irma
"Baguslah, ayo"
Mereka bertiga berjalan masuk
bis yang sudah disediakan dan memilih tempat duduk yang ada, terlihat seorang
seperti polisi masuk dan berkata sesuatu yang tidak terlalu didengarkan oleh
Danang dan Dicky tapi Irma seperti menangkap sesuatu yang aneh dari kata kata
polisi itu.
"Intinya selamat
datang kembali dan semoga tidak akan terjadi apa apa lagi di negara kita
tercinta ini, juga semoga tuhan memberkati perjalanan kalian terimakasih"
Polisi itu mengakhiri
ucapannya dengan senyuman tapi Irma menyadari bahwa itu bukan sebuah senyuman
tapi seperti raut wajah yang menyembunyikan banyak rahasia.
"Guys kita harus turun
dari bis ini, aku bisa merasakan sesuatu yang gak beres deh"
Ucap Irma
Ucap Irma
"Kau cuma kecapekan,
istirahatlah"
Ucap Dicky
Ucap Dicky
"Ini beneran Dick,
polisi tadi bilang seperti itu dan hal hal yang aneh lainnya"
Tegas Irma
Tegas Irma
"BRUUUM"
"Nah kita telat
kayaknya kalo keluar sekarang, udah istirahat aja, kita masih di jogja
perjalanan kita masih panjang buat ke surabaya"
Ucap Danang
Ucap Danang
"Terserah!"
Sunggut Irma kesal
Sunggut Irma kesal
Dalam perjalanan pikiran
Irma berjalan kemana mana, dia sangat gelisah, polisi, bandara dan hal hal
lainnya membuat dia tidak bisa berpikir jernih untuk saat ini, dia merasa hal
yang lebih buruk akan segera terjadi.
Bis berjalan melewati
sebuah jalan dimana Irma sangat ingat kalau dijalan itu temannya Evi dimakan
oleh zombie berukuran raksasa saat akan melerai perkelahian Danang dan Dicky,
semua bayangan masa lalu entah kenapa kembali dengan cepatnya padahal selama 3
tahun terakhir dia tidak pernah mengalami hal ini.
"Ah mungkin benar sebaiknya
aku beristirahat"
Ucap Irma
Ucap Irma
***
"BRRRRRMMMM"
Suara keras mesin bis
membangunkan Irma, dia sangat tidak bisa beristirahat dengan keadaan seperti
ini ditambah lagi dengan pikiran yang kacau. Ia melihat keluar jendela, sebuah
jalan lurus dengan hutan di kanan kirinya membuat ia mengingat sesuatu lagi.
"I...i..ini
kan.."
"Tempat bis yang aku
tumpangi terguling karena zombie"
Semua ingatan dan gambaran
masa lalu muncul secara langsung, dia mengingat semuanya, ingatannya semakin
kuat yang bahkan sudah tidak bisa ia tahan lagi, semua kejadian masa lalu yang
mengerikan terpampang jelas didepannya
"AAAAAAHHHHHHH!!!"
Suara teriaknya
membangunkan hampir setengah dari penumpang bis itu, Dicky dan Danang yang
terbangun langsung menenangkannya.
"Hey hey tenang tenang,
itu cuma mimpi, tenangkan dirimu"
Ucap Danang sambil mendekap Irma
Ucap Danang sambil mendekap Irma
"Aku punya firasat
yang sangat buruk, kita gak seharusnya berada disini, kita harus cepat cepat
keluar"
Seru Irma
Seru Irma
"Tenang kita masih
berada di perbatasan yang sangat sepi dan tidak ada kendaraan lain, jadi
tenangkan dirimu yaaaaaaaa!!!"
"BRRRUUUUAAAGGGGG"
"HAEEEERGGGGH"
Sebuah monster berukuran
raksasa menabrak bis dan membuatnya terpental jauh, Irma sempat melihat wajah
monster itu yang terlihat seperti zombie raksasa yang berbuat hal yang sama
dulu.
"BRAAAKKK....."
"BRAAAKKK....."
"Uhuk...uhuk"
Irma bangkit dan berjalan
sempoyongan mencari kedua temannya, dilihat nya semua orang yang berada didalam
bis itu tergeletak tak bernyawa, kepala yang terputus, tubuh hancur dan badan
yang sudah tak beraturan memaksa Irma menutup matanya sambil tetap mencari
teman temannya.
"Dicky! Danang!"
"Irma!"
"Kalian dimana!"
"Tolong cepat! Irma
kesini!"
Tanpa berpikir panjang lagi
Irma berlari menuju arah sumber suara itu, terlihat dari kejauhan Dicky sedang
berusaha mengeluarkan Danang yang terjepit oleh kursi dan bagian bis yang lain.
"Danang bertahan
danang!"
Teriak Dicky
Teriak Dicky
Irma yang hanya bisa
terdiam dan sedikit menitikkan air mata melihat temannya dengan keadaan yang
sangat mengerikan.
"Da...danang
be..bertahanlah"
"HEEAARRGHH"
"DEEMM.....DEEMM...DEEMM"
Sesosok raksasa kembali
muncul dan melihat mereka dengan tatapan yang sangat tajam, sedikit berlari dia
mendekati dan mencoba memakan ataupun membunuh mereka bertiga.
"HUAAARRGGGG!"
**************
Sebuah cahaya terang menyilaukan
pandangan Irma, sempat sedikit berpikir dia sudah mati tapi setelah dia melihat
sekelilingnya dia baru sadar kalau dia berada disebuah ruangan, dia mencoba
bangkit tapi tidak bisa karena sudah kehilangan banyak tenaga, dia menengok ke
kanan dan ke kiri dan terlihat Dicky dan Danang sama sama terbaring disana,
Danang terlihat lebih baik daripada saat terjepit tadi, tapi tetap terlihat dia
kehilangan sangat banyak darah disana.
"Uh Nang... Dick"
Bisik irma lemah
Bisik irma lemah
Kedua temannya tidak
merespon dan tetap terlihat tertidur atau pingsan dikasurnya.
"TAP...TAP....TAP"
Seorang laki laki dengan
hoodie merahnya berjalan masuk membawa beberapa obat ditangannya, Irma tidak
bisa melihat dengan jelas siapa dia karena tertutup hoodie merahnya, saat dia
mendekat barulah Irma tau siapa dia.
"A...Adit!"
Mendengar ucapan Irma laki
laki itu membuka Hoodie nya dan memperlihatkan dengan jelas wajahnya. Irma
sedikit senang dan takut mengetahui laki laki itu adalah temannya sendiri tapi
dia ingat dengan jelas kalau Adit sudah meledakkan dirinya sendiri.
"Maaf mbak saya bukan
Adit, saya Yuri"
Jelas laki laki itu
Jelas laki laki itu
"Tidak tidak mungkin
kau Adit teman kami, apa kamu gak ingat!"
"Maaf sekali lagi tapi
saya memang Yuri, bukan Adit"
"Gak bukan! Kamu
meledakkan dirimu untuk menyelamatkan kami semua"
Setelah berkata seperti itu
wajah laki laki itu berubah sedikit heran dan berjalan keluar ruangan itu. Irma
mencoba berdiri lagi dan mengikuti kemana laki laki yang mengaku bernama Yuri
itu pergi, dia berjalan sedikit jauh menuju ruangan dengan peralatan dan
monitor besar didalamnya, terlihat laki laki itu bersama seorang perempuan yang
sedang sibuk mencari sesuatu didalam komputernya.
"Yang kamu maksud adit
itu apa benar orang ini?"
Tanya Yuri sambil menunjukkan sebuah rekaman di layar monitor Irma melihat dengan jelas rekaman itu yang ternyata rekaman CCTV bandara dan terlihat seorang laki laki yang dikenalnya sedang membunuh ratusan zombie sebelum akhirnya meledakkan dirinya sendiri.
Melihat itu Irma mundur ke belakang dan terduduk sambil menutup wajahnya berusaha menahan tangisnya.
Tanya Yuri sambil menunjukkan sebuah rekaman di layar monitor Irma melihat dengan jelas rekaman itu yang ternyata rekaman CCTV bandara dan terlihat seorang laki laki yang dikenalnya sedang membunuh ratusan zombie sebelum akhirnya meledakkan dirinya sendiri.
Melihat itu Irma mundur ke belakang dan terduduk sambil menutup wajahnya berusaha menahan tangisnya.
"Ke...kenapa..."
"Kehilangan teman atau
keluarga memang sangat menyakitkan tapi kita tau kalau teman kita sendiri tidak
mati dengan sia sia"
Ucap Yuri mencoba menenangkan
Ucap Yuri mencoba menenangkan
Tak lama seorang perempuan
lain masuk dan membawakan sebuah air yang segera disuguhkan untuk menenangkan
Irma, Irma menoleh menerima gelas itu dan melihat siapa yang memberikan.
"Hah Ev....Evi!"
"Kamu beneran
Evi!"
Tanya Irma tidak percaya
Tanya Irma tidak percaya
"Bukan mbak saya Ayuni
dan yang mbak bilang Evi itu apa temennya mbak ya?"
Jelas Ayuni
Jelas Ayuni
"Yuri kenapa semua
bisa berwajah sangat mirip dengan teman temanku?"
"Aku bahkan tidak tau
kalau wajah kami mirip dengan teman teman mbak, yang aku pahami adalah kalau
setiap manusia punya 7 kembaran didunia ini, entah yang hidup atau yang tidak
kasat mata"
Jelas Yuri
Jelas Yuri
Serasa tidak percaya Irma
dapat kembali melihat wajah teman temannya setelah sekian lama walaupun Irma
tahu kalau itu bukan benar benar mereka.
"Lalu kau bisa
jelaskan apa yang terjadi maksudku benar benar terjadi?"
Pinta Irma
Pinta Irma
"Sebelum itu mari ikut
saya ke ruang depan dulu ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan"
Jawab Yuri
Jawab Yuri
Mereka berdua berjalan ke
ruang yang dimaksud oleh Yuri tanpa ada percakapan apapun, yang akhirnya
suasana hening tanpa percakapan itu pecah ketika mereka sampai di ruang depan.
"HAH!"
Mata Irma sedikit
terbelalak kaget dengan apa yang ada didepannya, empat mayat terbaring dengan
bagian tubuh yang sudah tidak lagi lengkap seperti terkena sesuatu atau hal
mengerikan lainnya, Irma mendatangi mayat mayat itu satu persatu dan berharap
yang ada dalam pikirannya benar benar menjadi kenyataan.
"Sebelum kamu membuka
tutup dari mayat itu, apa kamu yakin ingin mengetahuinya?"
Tanya Yuri
Tanya Yuri
"Ya"
Jawab Irma singkat
Jawab Irma singkat
Tangan Irma dengan sedikit
ragu mulai membuka tutup kain pertama dari mayat itu, dan......
"SREEEEKK"
"AAAHHH"
Irma berteriak kaget dan
mundur beberapa langkah kebelakang, dilihatnya mayat dengan setengah tubuh
hilang dan dengan wajah yang masih bisa dikenali. Irma mendekat lagi dan
memperjelas siapa yang dilihatnya.
"Khoirul..."
Dia segera membuka 3 kain
lainnya untuk melihat siapa saja disana.
"Dimas...Evi..."
"SREEEKK"
Irma membuka kain terakhir
dan hanya ada kaki dan sepatu disana, Irma tidak bisa tahu itu milik siapa dan
apa yang terjadi, sampai dia teringat sesuatu....
"Ya yang kau lihat itu
adalah milik Adit yang tersisa setelah dia meledakkan diri"
Jelas Yuri
Jelas Yuri
"Kenapa kau tunjukkan
ini semua"
Tanya Irma sedikit terisak
Tanya Irma sedikit terisak
"Agar kamu tau kalau
kami semua berbeda dengan semua temanmu, dan kami juga bukan temanmu yang sudah
mening...."
"PLAK!"
Sebuah tamparan keras
mendarat diwajah Yuri sebelum dia dapat menyelesaikan kalimatnya. Irma terlihat
sangat kesal dengan apa yang dia lihat dan dia dengar.
"Don't you dare to do
this again!"
"I don't know who you
are and you dare to show me all of this!, fuck off!"
Irma berlari kembali ke
ruangannya dan menguncinya dengan cepat sebelum Yuri dapat mencegahnya. Didalam
dia terdiam mengurung dirinya berusaha melupakan semua yang terjadi dan
berharap bisa hidup dengan normal lagi tapi dia tetap tidak bisa melakukan itu,
semua ingatannya serasa kembali lagi dan itu hal yang paling dia benci.
Sementara di luar Dicky dan
Danang sudah bangun dan menghampiri Yuri yang sedang merencanakan sesuatu di
ruang tengah, Dicky dan Danang yang sudah lebih tahu tentang Yuri beserta kawan
kawannya langsung ikut berkumpul tanpa ada perkenalan lagi.
Yuri terlihat memegang
sebuah peta dan berpikir sesuatu. Dicky melihat peta itu dan melihat kalau Yuri
sedang berusaha mencari suatu tempat.
"Apa yang kau cari?
Tanya Dicky
Tanya Dicky
"Military Base"
"Shit, apa yang akan
kau lakukan disana kau tau apa tentang kejadian disini?"
Tanya Dicky
Tanya Dicky
"Semua yang terjadi
disini adalah ulah para pengusaha kaya yang ingin membuat sebuah tempat didunia
ini menjadi tempat bermain, lebih mirip seperti Maze."
Ucap Indry secara tiba tiba dari meja komputernya
Ucap Indry secara tiba tiba dari meja komputernya
"Shut up! Kita bahkan
belum terlalu kenal mereka dan kau sudah memberi tau mereka sebuah
rahasia?!"
Sergah Renal yang muncul dari ruang sebelah
Sergah Renal yang muncul dari ruang sebelah
"Apa kalian sudah lupa
peraturan disini? Kita semua keluarga walau mereka masih baru tapi mereka
adalah survivor seperti kita semua"
Timpal Irul dari ruang atas
Timpal Irul dari ruang atas
"Sudahlah! Disini aku
yang memimpin jadi biarkan mereka ikut kita! Itu perintah"
Teriak Yuri
Teriak Yuri
"Here we go, a leader
word"
Ucap Renal
Ucap Renal
Keributan yang terjadi
membuat semua tidak sadar kalau Irma sedang mendengar semuanya dari balik tirai
yang memisahkan ruangan itu, dia tidak berani masuk karena masih mengingat
tindakannya tadi yang menampar Yuri dengan sangat keras, dia takut akan dibenci
disana atau bahkan lebih buruk.
"Lalu apa yang akan
kita lakukan disana? Maksudku di markas tentara"
Ucap Dicky
Ucap Dicky
"We steal
something"
Jawab Yuri
Jawab Yuri
"Apa yang kita
curi?"
Lanjut Dicky
Lanjut Dicky
"Alat, lebih tepatnya
kekuatan"
Timpal Indry
Timpal Indry
"Kekuatan, what you
mean?"
Tanya Dicky bingung
Tanya Dicky bingung
"Alat yang akan kita
curi itu bisa memberi kita kekuatan dan kekuatan itu nantinya yang kita gunakan
untuk melawan para pengusaha yang dilindungi oleh banyak pihak termasuk tentara
dan pembunuh bayaran"
Jelas Yuri
Jelas Yuri
"Okay jadi kapan kita
berangkat?"
"Kami berangkat pukul
12 malam ini, apa kau ingin ikut?"
Tanya Yuri
Tanya Yuri
"Nang bagaimana
denganmu?"
"Aku disini saja
menjaga Irma dia terlihat sedikit tertekan"
Jawab Danang
Jawab Danang
"Oke jadi aku yang
ikut"
"Baiklah aku, Dicky,
dan Irul yang berangkat, kau Renal tetap disini dan jaga mereka semua"
Perintah Yuri
Perintah Yuri
"Always be a baby
sitter"
***
Malam berlalu dengan cepat,
tanpa terasa jam sudah menunjukan pukul 12 tepat, tiga orang itu sudah bersiap
berangkat 'mencuri' alat yang dibicarakan tadi.
"Nang hati hati, Renal
biasanya sedikit usil"
Ucap Yuri
Ucap Yuri
"Oh oke"
Mereka berangkat dengan
pickup milik Irul yang tanpa mereka ketahui ada penumpang gelap yang sudah
berada di belakang pickup sedari tadi. Yuri yang tidak mengetahui hal itu tetap
melaju kearah markas tentara dengan cepatnya.
***
Danang yang ditinggal di
tempat persembunyian mencoba mengecek keadaan Irma yang memang sudah menjadi
tugasnya. Langkahnya sedikit cepat kearah kamar Irma yang keadaannya sangat
sunyi seperti tidak ada yang menghuni.
"TOK....TOK...TOK"
Danang mencoba mengetuk
pintu kamarnya tapi setelah sedikit lama menunggu tidak ada balasan dari dalam
kamar, dengan sabar dia mencoba mengutuknya lagi tapi tetap sunyi dan hening
yang dia dapatkan.
"Maaf kalau tidak
sopan"
Bisiknya
Bisiknya
"KRIIEEKK"
Pintu terbuka dan
memperlihatkan sebuah kamar yang kosong tanpa penghuni, sedikit panik dangan
membongkar kamar itu untuk mencari Irma tapi tetap saja nihil hasilnya.
"Shit! Aku harus
bilang hal ini pada Yuri"
Ucapnya panik
Ucapnya panik
Tangannya dengan cepat mengambil
alat komunikasi yang sudah disediakan disana dan menekan nomor Yuri dengan
segera
"TUUUT.....TUUUT.."
"Halo ada apa
Nang?"
"Gawat! Irma tidak ada
dikamarnya"
"Shit cepat panggil
Renal dan pergi mencarinya"
"B..baik"
"TUT"
Panggilan diakhiri dan Danang
segera mencari Renal untuk melakukan perintah yang diberikan Yuri.
***
"Sial!"
Gerutu Yuri
Gerutu Yuri
"Ada apa?"
Tanya Irul
Tanya Irul
"Irma gak ada
dikamarnya"
"Shit apa kau sudah
suruh mereka untuk mencarinya?"
"Yup sudah"
Pickup berhenti tepat
beberapa meter didepan markas tentara yang dimaksud. Mereka memarkir dan
menyembunyikan kendaraan itu dengan daun dan ranting agar tak terlihat dan
bergegas masuk kedalam Markas.
"Hey Dick kau bawa
ini"
Ucap Yuri memberikan sebuah activator bom
Ucap Yuri memberikan sebuah activator bom
"Hey buat apa
ini?"
"Jika kami menyuruhmu
menekan tombol itu, tekan saja"
Suruh Irul
Suruh Irul
"Oke cepatlah"
Mereka mengendap endap
masuk meninggalkan Irma yang mesih bersembunyi didalam pickup itu. Setelah
beberapa menit suara ledakan terdengar dan dengan segera Irma keluar dari
tempatnya dan masuk kedalam.
"Aku harus melakukan
ini sendiri"
Batinnya
Batinnya
Disisi lain dari bangunan
markas itu terdengar suara tembakan dan kegaduhan yang membuat sisi gedung yang
dilalui Irma tanpa penjagaan.
"Bagus tanpa
tentara"
Ucapnya lirih
Ucapnya lirih
"TAP...TAP..TAP"
Irma sedikit menekankan
langkahnya dan mengintip dari balik dinding melihat apa akan ada penjaga atau
tidak.
"Sepi... thats
great"
Batinnya dalam Hati
Batinnya dalam Hati
Dengan langkah cepat dan
berhati hati dia melanjutkan perjalanannya menurut dengan peta yang sudah dia
ambil dari ruang utama. Dan ketika sudah sampai di tempat yang dituju dia
melihat banyak sekali penjaga yang bahkan tidak terganggu dengan suara
keributan dari luar.
"Shit! Now what can i
do?"
Tak lama pintu terbuka
dengan paksa dan muncul 3 orang yang dia kenal.
"Yuri, Dicky dan
Irul"
Gumam Irma
Gumam Irma
Tanpa banyak omong lagi
mereka bertiga segera menembakki para penjaga dan juga berusaha mengambil
sebuah kotak yang ada ditengah tengah ruangan itu. Irma yang mengetahui hal itu
segera berlari dan mengambil kotak itu.
"Irma jangaaannn!!"
Teriak Yuri
Teriak Yuri
"Shit kau cepat
hentikan dia"
Perintah Yuri kepada Dicky
Perintah Yuri kepada Dicky
Dicky segera berlari dan
menangkap Irma sebelum dia berhasil meraih benda itu.
"Apa yang kau lakukan!
Kenapa tidak tetap di kamarmu!"
"Aku juga ingin
membantu, aku tahu semua rencana kalian dan aku terlalu takut untuk
berbicara!"
Jelas Irma
Jelas Irma
Tanpa disadari Dicky sebuah
granat mendarat tepat dibelakang mereka, Irul yang mengetahui hal itu berteriak
ke Dicky agar segera menjauh, Dicky yang mendengar hal itu segera mendorong
Irma tapi dia tidak terlalu cepat untuk berlari.
"BOOOOMMM"
"Dicky!!!"
Teriak Irma
Teriak Irma
Irma yang terlihat sedih
dan marah bangkit dan berlari meraih kotak itu.
"DAP"
Yuri yang tidak sempat
mencegahnya hanya bisa terus menembaki para penjaga sambil mendekati Irma.
"Rul lindungi
aku"
Suruh Yuri
Suruh Yuri
"Copy that"
Yuri berlari kearah Irma
dan dengan cepat membuka kotak itu. Terlihat yang ada didalam kotak itu
hanyalah beberapa cincin.
"Ir cepat ambil salah
satu dan bantu kami"
"B...baik"
Irma mengambil secara acak
dan segera memakai cincin itu. Dia merasakan ada seperti hentakan tenaga yang
sangat kuat menghantam dirinya. Yuri yang melihat hal itu segera menolongnya
dan melihat cincin apa yang dia ambil.
"Cloacking"
Gumam Yuri
Gumam Yuri
"Ir cepat kamu ucapkan
'Cloacking' dan bantu kami keluar dari sini"
Irma hanya mengangguk lirih
dan melakukan apa yang diucapkan Yuri.
"Cloacking!"
"ZIIP"
Tubuh Irma dengan segera
terlihat tembus pandang, dia hanya bingung dengan apa yang terjadi sampai Yuri
kembali berkata..
"Sentuh tubuh kami dan
bawa kami keluar dari sini"
Irma menepuk pundak Yuri
yang secara ajaib ikut menjadi tembus pandang seperti dia.
"Sekarang kita
selamatkan Irul"
Ajak Yuri
Ajak Yuri
Mereka berdua berjalan
secepatnya dan Irma dengan sigap menepuk pundak Irul juga.
"Now lets get out from
this place"
"Oh jangan lupa bawa
tubuh Dicky kembali"
Ucap Irul
Ucap Irul
"Tapi dia kan
sudah..."
Potong Irma
Potong Irma
"Lakukan saja"
Lanjut Irul
Lanjut Irul
Irma menyentuh tubuh Dicky
yang membuat dia tidak terlihat dan berlari keluar dari tempat itu.
"Oh ya Rul, blow up
this place"
"Got it"
"BIP"
"BOOOOOOMMMMMM"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar