Senin, 03 Oktober 2016

Sh!t #1


 
3 years later...
Setelah keadaan negara Indonesia kembali aman dari virus dan sisa sisa mayat sudah dibersihkan para survivor yang selamat dikembalikan ke negaranya.
"After all, finally we can go home"
Ucap Dicky
"Yup 3 tahun sudah berlalu dan serasa sangat kangen dengan keadaan negara sendiri"
Sahut Danang
"Ya walaupun tidak akan ada yang menyambut kita disana"
Lanjut Irma
"Setidaknya kita bisa pulang"
Ucapnya lagi
"Semua warga kebangsaan indonesia diharapkan segera menuju pesawat"
Sebuah suara pengumuman dari speaker memanggil kami, atau bisa dikatakan semua yang selamat dari peristiwa mengerikan 3 tahun lalu, dimana para mayat hidup berlarian memakan dan menyerang para manusia yang hidup, peristiwa dimana semua yang mempunyai keluarga, teman, dan orang spesial kehilangan semua itu dalam sekejap, tapi mungkin semua itu sudah tidak akan terulang lagi sekarang.
"Hoy Ir, malah ngelamun ayo ntar ditinggal lho"
Sergah Dicky mengagetkan
"Eh iya iya tunggu!"
Semua yang berasal dari Indonesia sudah masuk didalam pesawat, hampir semua kursi penuh tapi untunglah kami masih kebagian tempat duduk.
"Huft akhirnya dapet juga"
Ucap Danang
"Kamu sih Ir pake acara ngelamun segala, untung kita masih dapat tempat duduk"
Lanjutnya
"Hehe maaf maaf"
"Just enjoy the flight guys"
Kata Dicky
"Wuih si anjeg sekarang gaya pake bahasa inggris terus, mentang mentang udah 3 tahun disini dan punya pacar orang sini juga, udah lupa kamu sama yang jadi zombie di indonesia dulu"
Ucap Danang menggoda Dicky
"Hahaha shut up, yang lalu biarlah berlalu ya kali aku mau pacaran sama zombie hahaha"
"Dasar playboy"
Ucap Danang
Disaat kedua orang itu beradu mulut, Irma hanya duduk diam dan memandangi keluar jendela pesawat yang mulai terbang kembali ke Indonesia. Pikirannya sepertinya agak memikirkan sesuatu atau juga mengingat kejadian 3 tahun lalu yang sudah merenggut 4 orang temannya.
"DOOR....DUAAR....BOOOM"
"Lari dari sini!... cepat pergi!"
"HUAAARGGGH"
"Ayo lebih cepat!"
"BOOOM.....BRUAAK"
"Maafkan aku"
"GRRRRR"
"Hey lihat apa yang kutemukan"
"BRRRUUAAARR"
"AAHHHHHH"
"DOOOMMM"
"Nyawa ratusan orang lebih berharga dari pada satu orang. Cepat pergi!"
"Hoy ngelamun lagi ni anak"
Dicky membangunkan Irma dari lamunannya tentang kejadian 3 tahun lalu
Dengan wajah masih bingung dia berusaha mengatur duduknya.
"Aku berpikir apa kejadian 3 tahun lalu akan terulang kembali"
"Hey berpikirlah secara positif, jika kau berpikiran negatif ya yang terjadi mungkin akan negatif juga"
Ucap Dicky
"Udahlah kita juga sudah sampai, ayo turun"
Ajak Danang
"Okey ayo"
Kami semua turun dari pesawat dan berjalan menuju dalam bandara, terlihat masih banyak sisa sisa darah, pagar yang rusak dan juga bekas ledakan.
"Dick ini bandara dimana kita berangkat dulu ya?"
Tanya Irma
"Ya, kita langsung diterbangkan kesini jadi aku juga gak sempat tanya kita akan turun di bandara mana, karena aku tau disini Adit meledakkan dirinya untuk kita semua"
"BOOOOM DAR DAR DAR"
"Nyawa ratusan orang lebih berharga daripada satu! Cepat pergi!"
"Hey hey sadar ayo kita pergi dari tempat ini"
Danang menyadarkan Irma dari lamunannya lagi dan sesegera mungkin berjalan kedalam bandara. Sesosok siluet sempat terlihat oleh ekor mata Irma dari balik semak semak, tapi kedua temannya yang lain tidak mengetahui hal itu.
"Welcome"
***
"Ah akhirnya kita bisa kembali lagi ditempat kita lahir"
Ucap Danang senang
"Nah masalahnya sekarang kita gak ada kendaraan yang jemput atau apa?"
Timpal Dicky
"Hey tenanglah lihat tuh disana kita sudah disediakan bis"
tunjuk Irma
"Baguslah, ayo"
Mereka bertiga berjalan masuk bis yang sudah disediakan dan memilih tempat duduk yang ada, terlihat seorang seperti polisi masuk dan berkata sesuatu yang tidak terlalu didengarkan oleh Danang dan Dicky tapi Irma seperti menangkap sesuatu yang aneh dari kata kata polisi itu.
"Intinya selamat datang kembali dan semoga tidak akan terjadi apa apa lagi di negara kita tercinta ini, juga semoga tuhan memberkati perjalanan kalian terimakasih"
Polisi itu mengakhiri ucapannya dengan senyuman tapi Irma menyadari bahwa itu bukan sebuah senyuman tapi seperti raut wajah yang menyembunyikan banyak rahasia.
"Guys kita harus turun dari bis ini, aku bisa merasakan sesuatu yang gak beres deh"
Ucap Irma
"Kau cuma kecapekan, istirahatlah"
Ucap Dicky
"Ini beneran Dick, polisi tadi bilang seperti itu dan hal hal yang aneh lainnya"
Tegas Irma
"BRUUUM"
"Nah kita telat kayaknya kalo keluar sekarang, udah istirahat aja, kita masih di jogja perjalanan kita masih panjang buat ke surabaya"
Ucap Danang
"Terserah!"
Sunggut Irma kesal
Dalam perjalanan pikiran Irma berjalan kemana mana, dia sangat gelisah, polisi, bandara dan hal hal lainnya membuat dia tidak bisa berpikir jernih untuk saat ini, dia merasa hal yang lebih buruk akan segera terjadi.
Bis berjalan melewati sebuah jalan dimana Irma sangat ingat kalau dijalan itu temannya Evi dimakan oleh zombie berukuran raksasa saat akan melerai perkelahian Danang dan Dicky, semua bayangan masa lalu entah kenapa kembali dengan cepatnya padahal selama 3 tahun terakhir dia tidak pernah mengalami hal ini.
"Ah mungkin benar sebaiknya aku beristirahat"
Ucap Irma
***
"BRRRRRMMMM"
Suara keras mesin bis membangunkan Irma, dia sangat tidak bisa beristirahat dengan keadaan seperti ini ditambah lagi dengan pikiran yang kacau. Ia melihat keluar jendela, sebuah jalan lurus dengan hutan di kanan kirinya membuat ia mengingat sesuatu lagi.
"I...i..ini kan.."
"Tempat bis yang aku tumpangi terguling karena zombie"
Semua ingatan dan gambaran masa lalu muncul secara langsung, dia mengingat semuanya, ingatannya semakin kuat yang bahkan sudah tidak bisa ia tahan lagi, semua kejadian masa lalu yang mengerikan terpampang jelas didepannya
"AAAAAAHHHHHHH!!!"
Suara teriaknya membangunkan hampir setengah dari penumpang bis itu, Dicky dan Danang yang terbangun langsung menenangkannya.
"Hey hey tenang tenang, itu cuma mimpi, tenangkan dirimu"
Ucap Danang sambil mendekap Irma
"Aku punya firasat yang sangat buruk, kita gak seharusnya berada disini, kita harus cepat cepat keluar"
Seru Irma
"Tenang kita masih berada di perbatasan yang sangat sepi dan tidak ada kendaraan lain, jadi tenangkan dirimu yaaaaaaaa!!!"
"BRRRUUUUAAAGGGGG"
"HAEEEERGGGGH"
Sebuah monster berukuran raksasa menabrak bis dan membuatnya terpental jauh, Irma sempat melihat wajah monster itu yang terlihat seperti zombie raksasa yang berbuat hal yang sama dulu.
"BRAAAKKK....."
"Uhuk...uhuk"
Irma bangkit dan berjalan sempoyongan mencari kedua temannya, dilihat nya semua orang yang berada didalam bis itu tergeletak tak bernyawa, kepala yang terputus, tubuh hancur dan badan yang sudah tak beraturan memaksa Irma menutup matanya sambil tetap mencari teman temannya.
"Dicky! Danang!"
"Irma!"
"Kalian dimana!"
"Tolong cepat! Irma kesini!"
Tanpa berpikir panjang lagi Irma berlari menuju arah sumber suara itu, terlihat dari kejauhan Dicky sedang berusaha mengeluarkan Danang yang terjepit oleh kursi dan bagian bis yang lain.
"Danang bertahan danang!"
Teriak Dicky
Irma yang hanya bisa terdiam dan sedikit menitikkan air mata melihat temannya dengan keadaan yang sangat mengerikan.
"Da...danang be..bertahanlah"
"HEEAARRGHH"
"DEEMM.....DEEMM...DEEMM"
Sesosok raksasa kembali muncul dan melihat mereka dengan tatapan yang sangat tajam, sedikit berlari dia mendekati dan mencoba memakan ataupun membunuh mereka bertiga.
"HUAAARRGGGG!"
**************
Sebuah cahaya terang menyilaukan pandangan Irma, sempat sedikit berpikir dia sudah mati tapi setelah dia melihat sekelilingnya dia baru sadar kalau dia berada disebuah ruangan, dia mencoba bangkit tapi tidak bisa karena sudah kehilangan banyak tenaga, dia menengok ke kanan dan ke kiri dan terlihat Dicky dan Danang sama sama terbaring disana, Danang terlihat lebih baik daripada saat terjepit tadi, tapi tetap terlihat dia kehilangan sangat banyak darah disana.
"Uh Nang... Dick"
Bisik irma lemah
Kedua temannya tidak merespon dan tetap terlihat tertidur atau pingsan dikasurnya.
"TAP...TAP....TAP"
Seorang laki laki dengan hoodie merahnya berjalan masuk membawa beberapa obat ditangannya, Irma tidak bisa melihat dengan jelas siapa dia karena tertutup hoodie merahnya, saat dia mendekat barulah Irma tau siapa dia.
"A...Adit!"
Mendengar ucapan Irma laki laki itu membuka Hoodie nya dan memperlihatkan dengan jelas wajahnya. Irma sedikit senang dan takut mengetahui laki laki itu adalah temannya sendiri tapi dia ingat dengan jelas kalau Adit sudah meledakkan dirinya sendiri.
"Maaf mbak saya bukan Adit, saya Yuri"
Jelas laki laki itu
"Tidak tidak mungkin kau Adit teman kami, apa kamu gak ingat!"
"Maaf sekali lagi tapi saya memang Yuri, bukan Adit"
"Gak bukan! Kamu meledakkan dirimu untuk menyelamatkan kami semua"
Setelah berkata seperti itu wajah laki laki itu berubah sedikit heran dan berjalan keluar ruangan itu. Irma mencoba berdiri lagi dan mengikuti kemana laki laki yang mengaku bernama Yuri itu pergi, dia berjalan sedikit jauh menuju ruangan dengan peralatan dan monitor besar didalamnya, terlihat laki laki itu bersama seorang perempuan yang sedang sibuk mencari sesuatu didalam komputernya.
"Yang kamu maksud adit itu apa benar orang ini?"
Tanya Yuri sambil menunjukkan sebuah rekaman di layar monitor Irma melihat dengan jelas rekaman itu yang ternyata rekaman CCTV bandara dan terlihat seorang laki laki yang dikenalnya sedang membunuh ratusan zombie sebelum akhirnya meledakkan dirinya sendiri.
Melihat itu Irma mundur ke belakang dan terduduk sambil menutup wajahnya berusaha menahan tangisnya.
"Ke...kenapa..."
"Kehilangan teman atau keluarga memang sangat menyakitkan tapi kita tau kalau teman kita sendiri tidak mati dengan sia sia"
Ucap Yuri mencoba menenangkan
Tak lama seorang perempuan lain masuk dan membawakan sebuah air yang segera disuguhkan untuk menenangkan Irma, Irma menoleh menerima gelas itu dan melihat siapa yang memberikan.
"Hah Ev....Evi!"
"Kamu beneran Evi!"
Tanya Irma tidak percaya
"Bukan mbak saya Ayuni dan yang mbak bilang Evi itu apa temennya mbak ya?"
Jelas Ayuni
"Yuri kenapa semua bisa berwajah sangat mirip dengan teman temanku?"
"Aku bahkan tidak tau kalau wajah kami mirip dengan teman teman mbak, yang aku pahami adalah kalau setiap manusia punya 7 kembaran didunia ini, entah yang hidup atau yang tidak kasat mata"
Jelas Yuri
Serasa tidak percaya Irma dapat kembali melihat wajah teman temannya setelah sekian lama walaupun Irma tahu kalau itu bukan benar benar mereka.
"Lalu kau bisa jelaskan apa yang terjadi maksudku benar benar terjadi?"
Pinta Irma
"Sebelum itu mari ikut saya ke ruang depan dulu ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan"
Jawab Yuri
Mereka berdua berjalan ke ruang yang dimaksud oleh Yuri tanpa ada percakapan apapun, yang akhirnya suasana hening tanpa percakapan itu pecah ketika mereka sampai di ruang depan.
"HAH!"
Mata Irma sedikit terbelalak kaget dengan apa yang ada didepannya, empat mayat terbaring dengan bagian tubuh yang sudah tidak lagi lengkap seperti terkena sesuatu atau hal mengerikan lainnya, Irma mendatangi mayat mayat itu satu persatu dan berharap yang ada dalam pikirannya benar benar menjadi kenyataan.
"Sebelum kamu membuka tutup dari mayat itu, apa kamu yakin ingin mengetahuinya?"
Tanya Yuri
"Ya"
Jawab Irma singkat
Tangan Irma dengan sedikit ragu mulai membuka tutup kain pertama dari mayat itu, dan......
"SREEEEKK"
"AAAHHH"
Irma berteriak kaget dan mundur beberapa langkah kebelakang, dilihatnya mayat dengan setengah tubuh hilang dan dengan wajah yang masih bisa dikenali. Irma mendekat lagi dan memperjelas siapa yang dilihatnya.
"Khoirul..."
Dia segera membuka 3 kain lainnya untuk melihat siapa saja disana.
"Dimas...Evi..."
"SREEEKK"
Irma membuka kain terakhir dan hanya ada kaki dan sepatu disana, Irma tidak bisa tahu itu milik siapa dan apa yang terjadi, sampai dia teringat sesuatu....
"Ya yang kau lihat itu adalah milik Adit yang tersisa setelah dia meledakkan diri"
Jelas Yuri
"Kenapa kau tunjukkan ini semua"
Tanya Irma sedikit terisak
"Agar kamu tau kalau kami semua berbeda dengan semua temanmu, dan kami juga bukan temanmu yang sudah mening...."
"PLAK!"
Sebuah tamparan keras mendarat diwajah Yuri sebelum dia dapat menyelesaikan kalimatnya. Irma terlihat sangat kesal dengan apa yang dia lihat dan dia dengar.
"Don't you dare to do this again!"
"I don't know who you are and you dare to show me all of this!, fuck off!"
Irma berlari kembali ke ruangannya dan menguncinya dengan cepat sebelum Yuri dapat mencegahnya. Didalam dia terdiam mengurung dirinya berusaha melupakan semua yang terjadi dan berharap bisa hidup dengan normal lagi tapi dia tetap tidak bisa melakukan itu, semua ingatannya serasa kembali lagi dan itu hal yang paling dia benci.
Sementara di luar Dicky dan Danang sudah bangun dan menghampiri Yuri yang sedang merencanakan sesuatu di ruang tengah, Dicky dan Danang yang sudah lebih tahu tentang Yuri beserta kawan kawannya langsung ikut berkumpul tanpa ada perkenalan lagi.
Yuri terlihat memegang sebuah peta dan berpikir sesuatu. Dicky melihat peta itu dan melihat kalau Yuri sedang berusaha mencari suatu tempat.
"Apa yang kau cari?
Tanya Dicky
"Military Base"
"Shit, apa yang akan kau lakukan disana kau tau apa tentang kejadian disini?"
Tanya Dicky
"Semua yang terjadi disini adalah ulah para pengusaha kaya yang ingin membuat sebuah tempat didunia ini menjadi tempat bermain, lebih mirip seperti Maze."
Ucap Indry secara tiba tiba dari meja komputernya
"Shut up! Kita bahkan belum terlalu kenal mereka dan kau sudah memberi tau mereka sebuah rahasia?!"
Sergah Renal yang muncul dari ruang sebelah
"Apa kalian sudah lupa peraturan disini? Kita semua keluarga walau mereka masih baru tapi mereka adalah survivor seperti kita semua"
Timpal Irul dari ruang atas
"Sudahlah! Disini aku yang memimpin jadi biarkan mereka ikut kita! Itu perintah"
Teriak Yuri
"Here we go, a leader word"
Ucap Renal
Keributan yang terjadi membuat semua tidak sadar kalau Irma sedang mendengar semuanya dari balik tirai yang memisahkan ruangan itu, dia tidak berani masuk karena masih mengingat tindakannya tadi yang menampar Yuri dengan sangat keras, dia takut akan dibenci disana atau bahkan lebih buruk.
"Lalu apa yang akan kita lakukan disana? Maksudku di markas tentara"
Ucap Dicky
"We steal something"
Jawab Yuri
"Apa yang kita curi?"
Lanjut Dicky
"Alat, lebih tepatnya kekuatan"
Timpal Indry
"Kekuatan, what you mean?"
Tanya Dicky bingung
"Alat yang akan kita curi itu bisa memberi kita kekuatan dan kekuatan itu nantinya yang kita gunakan untuk melawan para pengusaha yang dilindungi oleh banyak pihak termasuk tentara dan pembunuh bayaran"
Jelas Yuri
"Okay jadi kapan kita berangkat?"
"Kami berangkat pukul 12 malam ini, apa kau ingin ikut?"
Tanya Yuri
"Nang bagaimana denganmu?"
"Aku disini saja menjaga Irma dia terlihat sedikit tertekan"
Jawab Danang
"Oke jadi aku yang ikut"
"Baiklah aku, Dicky, dan Irul yang berangkat, kau Renal tetap disini dan jaga mereka semua"
Perintah Yuri
"Always be a baby sitter"
***
Malam berlalu dengan cepat, tanpa terasa jam sudah menunjukan pukul 12 tepat, tiga orang itu sudah bersiap berangkat 'mencuri' alat yang dibicarakan tadi.
"Nang hati hati, Renal biasanya sedikit usil"
Ucap Yuri
"Oh oke"
Mereka berangkat dengan pickup milik Irul yang tanpa mereka ketahui ada penumpang gelap yang sudah berada di belakang pickup sedari tadi. Yuri yang tidak mengetahui hal itu tetap melaju kearah markas tentara dengan cepatnya.
***
Danang yang ditinggal di tempat persembunyian mencoba mengecek keadaan Irma yang memang sudah menjadi tugasnya. Langkahnya sedikit cepat kearah kamar Irma yang keadaannya sangat sunyi seperti tidak ada yang menghuni.
"TOK....TOK...TOK"
Danang mencoba mengetuk pintu kamarnya tapi setelah sedikit lama menunggu tidak ada balasan dari dalam kamar, dengan sabar dia mencoba mengutuknya lagi tapi tetap sunyi dan hening yang dia dapatkan.
"Maaf kalau tidak sopan"
Bisiknya
"KRIIEEKK"
Pintu terbuka dan memperlihatkan sebuah kamar yang kosong tanpa penghuni, sedikit panik dangan membongkar kamar itu untuk mencari Irma tapi tetap saja nihil hasilnya.
"Shit! Aku harus bilang hal ini pada Yuri"
Ucapnya panik
Tangannya dengan cepat mengambil alat komunikasi yang sudah disediakan disana dan menekan nomor Yuri dengan segera
"TUUUT.....TUUUT.."
"Halo ada apa Nang?"
"Gawat! Irma tidak ada dikamarnya"
"Shit cepat panggil Renal dan pergi mencarinya"
"B..baik"
"TUT"
Panggilan diakhiri dan Danang segera mencari Renal untuk melakukan perintah yang diberikan Yuri.
***
"Sial!"
Gerutu Yuri
"Ada apa?"
Tanya Irul
"Irma gak ada dikamarnya"
"Shit apa kau sudah suruh mereka untuk mencarinya?"
"Yup sudah"
Pickup berhenti tepat beberapa meter didepan markas tentara yang dimaksud. Mereka memarkir dan menyembunyikan kendaraan itu dengan daun dan ranting agar tak terlihat dan bergegas masuk kedalam Markas.
"Hey Dick kau bawa ini"
Ucap Yuri memberikan sebuah activator bom
"Hey buat apa ini?"
"Jika kami menyuruhmu menekan tombol itu, tekan saja"
Suruh Irul
"Oke cepatlah"
Mereka mengendap endap masuk meninggalkan Irma yang mesih bersembunyi didalam pickup itu. Setelah beberapa menit suara ledakan terdengar dan dengan segera Irma keluar dari tempatnya dan masuk kedalam.
"Aku harus melakukan ini sendiri"
Batinnya
Disisi lain dari bangunan markas itu terdengar suara tembakan dan kegaduhan yang membuat sisi gedung yang dilalui Irma tanpa penjagaan.
"Bagus tanpa tentara"
Ucapnya lirih
"TAP...TAP..TAP"
Irma sedikit menekankan langkahnya dan mengintip dari balik dinding melihat apa akan ada penjaga atau tidak.
"Sepi... thats great"
Batinnya dalam Hati
Dengan langkah cepat dan berhati hati dia melanjutkan perjalanannya menurut dengan peta yang sudah dia ambil dari ruang utama. Dan ketika sudah sampai di tempat yang dituju dia melihat banyak sekali penjaga yang bahkan tidak terganggu dengan suara keributan dari luar.
"Shit! Now what can i do?"
Tak lama pintu terbuka dengan paksa dan muncul 3 orang yang dia kenal.
"Yuri, Dicky dan Irul"
Gumam Irma
Tanpa banyak omong lagi mereka bertiga segera menembakki para penjaga dan juga berusaha mengambil sebuah kotak yang ada ditengah tengah ruangan itu. Irma yang mengetahui hal itu segera berlari dan mengambil kotak itu.
"Irma jangaaannn!!"
Teriak Yuri
"Shit kau cepat hentikan dia"
Perintah Yuri kepada Dicky
Dicky segera berlari dan menangkap Irma sebelum dia berhasil meraih benda itu.
"Apa yang kau lakukan! Kenapa tidak tetap di kamarmu!"
"Aku juga ingin membantu, aku tahu semua rencana kalian dan aku terlalu takut untuk berbicara!"
Jelas Irma
Tanpa disadari Dicky sebuah granat mendarat tepat dibelakang mereka, Irul yang mengetahui hal itu berteriak ke Dicky agar segera menjauh, Dicky yang mendengar hal itu segera mendorong Irma tapi dia tidak terlalu cepat untuk berlari.
"BOOOOMMM"
"Dicky!!!"
Teriak Irma
Irma yang terlihat sedih dan marah bangkit dan berlari meraih kotak itu.
"DAP"
Yuri yang tidak sempat mencegahnya hanya bisa terus menembaki para penjaga sambil mendekati Irma.
"Rul lindungi aku"
Suruh Yuri
"Copy that"
Yuri berlari kearah Irma dan dengan cepat membuka kotak itu. Terlihat yang ada didalam kotak itu hanyalah beberapa cincin.
"Ir cepat ambil salah satu dan bantu kami"
"B...baik"
Irma mengambil secara acak dan segera memakai cincin itu. Dia merasakan ada seperti hentakan tenaga yang sangat kuat menghantam dirinya. Yuri yang melihat hal itu segera menolongnya dan melihat cincin apa yang dia ambil.
"Cloacking"
Gumam Yuri
"Ir cepat kamu ucapkan 'Cloacking' dan bantu kami keluar dari sini"
Irma hanya mengangguk lirih dan melakukan apa yang diucapkan Yuri.
"Cloacking!"
"ZIIP"
Tubuh Irma dengan segera terlihat tembus pandang, dia hanya bingung dengan apa yang terjadi sampai Yuri kembali berkata..
"Sentuh tubuh kami dan bawa kami keluar dari sini"
Irma menepuk pundak Yuri yang secara ajaib ikut menjadi tembus pandang seperti dia.
"Sekarang kita selamatkan Irul"
Ajak Yuri
Mereka berdua berjalan secepatnya dan Irma dengan sigap menepuk pundak Irul juga.
"Now lets get out from this place"
"Oh jangan lupa bawa tubuh Dicky kembali"
Ucap Irul
"Tapi dia kan sudah..."
Potong Irma
"Lakukan saja"
Lanjut Irul
Irma menyentuh tubuh Dicky yang membuat dia tidak terlihat dan berlari keluar dari tempat itu.
"Oh ya Rul, blow up this place"
"Got it"
"BIP"
"BOOOOOOMMMMMM"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar