Ketiga orang tadi segera
kembali ke pick up mereka dan meninggalkan tempat itu secepatnya agar tidak ada
yang mengikuti mereka. Dalam perjalanan Irma hanya terdiam dan melihat cincin
yang ada di jarinya, dia masih kebingungan tentang apa yang terjadi dan apa
sebenarnya benda yang menempel di jarinya itu. Irul yang mengetahui hal itu
segera berbisik kepada Yuri agar memberitahukan semuanya.
"Ir..."
Panggil Yuri
Panggil Yuri
"Ya.."
"Kamu masih bingung
dengan apa yang sudah terjadikan?"
"Ya.."
Jawab Irma singkat tanpa melihat Yuri sedikitpun
Jawab Irma singkat tanpa melihat Yuri sedikitpun
"Benda yang ada
ditanganmu eh maaf maksudku jarimu itu adalah proyek terbaru pemerintahan dan
tentara agar negara ini bersih dari para pribuminya, caranya? Hanya dengan
memakaikan cincin itu ke tentara yang terpercaya dan mereka dengan otomatis
memiliki kekuatan super yang terdiri dari empat kekuatan yaitu Jumper,
Cloacking, Levitation, dan Psychokinesis dan yang sedang kamu pakai itu adalah
Cloacking"
Jelas Yuri
Jelas Yuri
"A.. aku masih belum
paham tentang kekuatan itu?"
Tanya Irma
Tanya Irma
"Cloacking yang sedang
kamu pakai itu berfungsi membuat pemakainya menghilang atau tembus pandang, itu
sebabnya kita dapat keluar dari sana tanpa terlihat"
"Oh..."
"Lalu Jumper itu
memiliki kekuatan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya secara
singkat.
Levitation dapat membuat pemakainya terbang atau melayang.
Dan Psychokinesis dapat membuat pemakainya mengendalikan semua Hal dengan pikirannya.
Lanjut Yuri
Levitation dapat membuat pemakainya terbang atau melayang.
Dan Psychokinesis dapat membuat pemakainya mengendalikan semua Hal dengan pikirannya.
Lanjut Yuri
"Lalu kenapa kamu curi
semua ini?"
"Heh, aku tidak ingin
pribumi asli indonesia dibersihkan jadi aku ambil semua itu agar rencana
pemerintah gagal dan juga kita bisa menghancurkan mereka semua"
Ucap Yuri bersemangat
Ucap Yuri bersemangat
"Tapi aku belum bilang
setuju atas hal ini!"
Tolak Irma
Tolak Irma
Yuri menghentikan pickupnya
dan menoleh kebelakang menatap Irma dalam dalam.
"Ir kamu ingat
kejadian 3 tahun lalu?"
Irma terdiam...
"Kejadian dimana semua
keluarga, teman, dan sahabat kita mati? Kau kira itu salah siapa? Pemerintah
sudah merencanakan semua ini dan kenapa para survivor dipulangkan? Karena
mereka ingin benar benar semua orang asli indonesia mati!"
Irma masih terdiam tapi dia
sudah merasa sedikit gelisah.
"Kau kira tidak banyak
orang yang jadi korban? Keluargamu? Sahabatmu? Bahkan temanmu Adit yang
mengorbankan nyawanya hanya untuk menyelamatkan para survivor yang tersisa? Kau
kira itu tidak ada harganya!"
"PLAK!!!"
Tamparan keras kembali
mendarat tepat di pipi Yuri, Yuri terdiam sejenak sebelum kembali menatap Irma.
"Kau puas? Hanya
dengan menamparku apa akan mengembalikan mereka yang telah mati?"
"Stop it Yur! I dont
want to hear it anymore, just drive us home"
Perjalanan berlanjut tanpa
ada percakapan apapun, sunyi senyap itu hal yang tergambar dari sisa perjalanan
mereka. Irma yang sedikit terguncang karena perkataan Yuri tadi dan terlalu
takut untuk berbicara. Yuri yang sedang fokus menyetir juga tidak ingin
mengeluarkan satu patah kata dari mulutnya dan Irul tidak mau menambah buruk
keadaan dengan berbicara.
Tak terasa mereka sudah
sampai didepan tempat persembunyian mereka, dengan cepat Irma turun dan berlari
menuju kamarnya, yang tanpa sadar dia menabrak tubuh Danang yang berdiri
didepan pintu.
"BRAAK"
"Irma hey kau tak apa
apa?"
Tanpa menjawab dia langsung
berlari kembali kekamarnya, Danang yang hanya bingung melihat kejadian itu
mendatangi Yuri dan bertanya beberapa hal.
"Hey kenapa dia?"
Tanya Danang
Tanya Danang
"Aku juga tidak begitu
paham dia terlalu rapuh dan gampang sekali down karena beberapa perkataan"
Jawab Yuri
Jawab Yuri
"Ow.. lalu benda apa
yang kau bawa pulang itu?"
"Hanya beberapa
senjata dan benda"
"Bisa kau bantu Irul
membawanya kedalam? Aku akan memanggil yang lainnya untuk berkumpul ke ruang
utama"
"Baiklah"
Yuri masuk kedalam rumah
meninggalkan Danang dan Irul yang membawa benda yang sudah mereka curi itu.
Yuri memanggil semua orang untuk berkumpul ke ruang utama tak terkecuali Irma,
Yuri berjalan menuju kamarnya berusaha membujuknya agar mau keluar dan
berkumpul.
"TOK...TOK...TOK"
"Irma jika kau tidak
keberatan bisakah kau bergabung dengan kami di ruang utama?"
Ruangan itu sunyi senyap,
Irma yang berada didalam masih terlalu takut untuk menjawab atau keluar Dia
hanya mendengarkan dari dalam.
"Tolonglah bergabung
dengan kami, ada hal penting yang ingin aku sampaikan, ya jika kau tidak
menjawab hanya pastikan kau ikut berkumpul 10 menit lagi"
Yuri meninggalkan ruangan
itu dan berjalan ke ruang utama menunggu yang lainnya berkumpul, Irma yang
masih ada didalam sedikit mengalami perang antara hati dan pikiran, hatinya
berkata hal buruk akan terjadi jika melakukan apa yang direncanakan Yuri tapi
pikirannya berpikir kalau apa yang Yuri katakan itu memang harus dilakukan
karena sudah banyak juga yang berkorban untuk hal ini.
Pintu kamar Irma kembali berbunyi, Danang yang berada diluar mencoba meyakinkan Irma kembali agar keluar dan bergabung.
Pintu kamar Irma kembali berbunyi, Danang yang berada diluar mencoba meyakinkan Irma kembali agar keluar dan bergabung.
"Ir bisa ikut
bergabung dengan kami?"
Pinta Danang
Pinta Danang
"KRIEEK"
Pintu Irma terbuka dengan
Irma yang berada dibelakangnya, dia sedikit tersenyum dan mengiyakan ajakan
Danang untuk bergabung ke ruang tengah, di ruang tengah semua sudah berkumpul
dan mereka juga sudah menunggu agar Semua yang ada sudah berkumpul dan duduk di
kursi masing masing, Yuri menarik nafas panjang sebelum berbicara lalu melihat
mereka semua satu per satu.
"Baiklah, mungkin
semua yang ada disini sudah tahu tentang rencana mencuri sesuatu dari markas
tentara, dan ini lah benda itu"
Yuri mengeluarkan benda
yang berada dalam kotak keatas meja semua yang berada disana melihat benda itu
dengan sedikit keheranan.
"Well jadi kau ke
markas tentara hanya untuk mencuri beberapa akik mereka? Well nice leader"
Ucap Renal
Ucap Renal
"Ini buka sekedar
cincin biasa cincin ini bisa memberimu kekuatan, jika tidak percaya Irma sudah
memakainya dan dia menyelamatkan kami semua"
"Ir coba tunjukan
kekuatanmu"
Pinta Yuri
Pinta Yuri
"Ba..baik"
"Cloacking!"
Seketika tubuh Irma menjadi
tembus pandang, semua yang berada diruangan itu terperanjat kaget dengan
kekuatan yang sudah dimunculkan Irma tadi.
"Baiklah Ir muncullah
lagi"
"Off!"
Tubuh Irma kembali
terlihat, lalu semua sedikit kebingungan dengan hal itu.
"Jangan bingung aku
akan menjelaskan semua ini, tapi sebelum itu siapa yang setuju kalau kita akan
menggunakan kekuatan ini untuk melawan pemerintahan dan menyelamatkan pribumi
asli negara ini?"
Semua orang mengangkat
tangannya tak terkecuali Irma yang sebelumnya tidak menyetujui hal ini.
"Baiklah terimakasih
untuk semuanya, oke disini ada 8 cincin minus 1 karena sudah dipakai Irma jadi
tinggal 7 cincin. Cincin ini mempunyai kekuatan tersendiri tapi hanya ada empat
macam kekuatan. Jumper, Levitation, Psychokinesis, dan Cloacking seperti yang
dipakai Irma. Jumper bisa membuat pemakainya berpindah tempat dengan cepat,
Levitation membuat pemakainya bisa terbang atau melayang, Psychokinesis dapat
membuat pemakainya mengendalikan benda dengan pikirannya, dan Cloacking seperti
yang sudah kalian lihat dapat membuat hilang penggunanya."
"Jadi dengan semua
kekuatan ini kita bisa mengalahkan pemerintahan?"
Tanya Indry
Tanya Indry
"Atau bisa
mengendalikan dunia hahahaha"
Tambah Renal
Tambah Renal
"Ya seperti itu, jadi
pilihlah kekuatan kalian dan bersiap ke ruang latihan dibelakang"
Suruh Yuri
Suruh Yuri
Semua yang berada disana
mengambil cincin masing masing dan pergi ke tempat latihan seperti yang di
perintahkan.
"Hey tapi sebelum itu
ambil juga senjata disini"
Tambah Yuri
Tambah Yuri
Semua orang sudah mempunyai
cincin dan senjata yang sudah dipilih dan bersiap di tengah tengah tempat
latihan.
"Semoga saja tidak ada
yang mati disini"
Ucap Renal
Ucap Renal
"Apa kalian tidak
takut untuk bertarung dengan satu sama lainnya walau ini cuma latihan?"
Tanya Irma
Tanya Irma
"Haha untuk apa takut,
kita bahkan tidak tahu siapa yang akan kita lawan dan juga siapa musuh
kita"
Ucap Renal
Ucap Renal
"Tapi lama sekali
Yuri"
Ucap Danang
Ucap Danang
Tak lama Yuri datang dengan
Dicky , dia terlihat sehat tak terlihat seperti habis terkena granat.
"Well the deadman is
wake now"
Ejek Renal
Ejek Renal
"Apa semua sudah
berkumpul?"
Tanya Yuri
Tanya Yuri
"Sudah"
"Baik kita mulai saja,
dan peraturannya hanya satu, tidak boleh membunuh hanya itu"
Jelas Yuri
Jelas Yuri
"Hanya itu? Hah tidak
seru"
Sindir Renal
Sindir Renal
"Hey satu kali lagi
kau berbicara aku sobek mulutmu"
Bentak Dicky
Bentak Dicky
"Ow im scare"
"Sudahlah kalian!, ayo
masing masing orang ambil satu undian, yang nomernya sama maka dia yang
bertarung"
Ucap Yuri
Ucap Yuri
Mereka semua mengambil
nomer dan membukanya, semuanya saling pandang dan menyebutkan nomer yang
didapat agar tahu siapa yang menjadi lawannya.
"Wow aku melawan sang
princess hahaha"
Ucap Dimas yang memiliki nomer sama seperti Irma
Ucap Dimas yang memiliki nomer sama seperti Irma
"Baiklah yang dapat
nomer satu segera maju kedepan"
Danang dan Irul maju
kedepan dan sudah bersiap di sisi masing masing.
"Oke ingat
peraturannya, ini antara Cloacking melawan Psychokinesis dan antara panah
melawan katana. Kalian siap, fight!"
Danang dengan cepat segera
menghilang dari pandangan Irul, Irul yang sedikit kebingungan mencoba
berkonsentrasi terhadap sekelilingnya.
"WUUSSHH"
"STASSH"
Sebuah anak panah mendarat
tepat di lengan Irul, Irul sedikit menahan rasa sakitnya. Dia kembali
berkonsentrasi dan mencoba menunggu panah yang lainnya datang.
"WUSSHH...WUSHH...WUUSSSH"
Anak panah bermunculan
dengan cepatnya melukai tubuh Irul, Irul yang terdiam dan berkonsentrasi
sebelum dia melempar sesuatu.
"There!"
"GRUDUK...WUSSSH"
Benda benda yang ada
disekitar tempat latihan itu melayang tepat kearah Danang.
"BRAAKK UGHH"
Danang sudah terlihat dan
muncul karena terkena hantaman benda benda tadi, Irul berjalan mendekat dan
menempelkan mata Katananya di leher Danang.
"Oke aku
menyerah"
Ucap Danang
Ucap Danang
Mereka segera menepi dan
menuju tempat istirahat untuk mengobati semua lukanya.
"Oke nomer dua maju
kedepan"
"Oke princess
berdoalah agar aku tidak membunuhmu"
Sindir Renal
Sindir Renal
Irma yang mendengar hal itu
sedikit ketakutan tapi tetap berusaha tenang.
"Baiklah ingat
peraturannya jangan membunuh, pertarungan antara Cloacking dengan Jumper, Panah
dengan Dagger, siap? Fight!"
Irma belajar untuk sedikit
mengulur waktu Renal dan tidak menghilang seperti yang dilakukan Danang, Renal
juga terlihat sangat santai bahkan terlihat tidak bernafsu untuk melawan gadis
kecil itu.
"Ayolah menghilang dan
beri aku sedikit tembakan panahmu, aku bosan disini"
Ucap Renal
Ucap Renal
"Cloacking!"
Irma dengan cepat
menghilang dan menembakkan anak panahnya dari samping Renal.
"WUSH..."
"CRING"
Renal menepis anak panah
itu dengan daggernya dan melakukan perpindahan tempat ke arah kiri dirinya.
"BUUFF"
"Sudahlah menyerah aku
sudah memegangmu"
Ucap Renal
Ucap Renal
"Sial bagaimana kau
tau?"
"Gerakanmu sangat
mudah dibaca"
Irma kembali terlihat
sedang berada dalam cekikan Renal, Renal melepaskan tangannya tapi memberi
sedikit luka pada tangan Irma
"CROCK"
"Auw"
"Anggap itu oleh
olehku"
Ucap Renal
Ucap Renal
"Hey apa yang kau
lakukan!"
Teriak Danang
Teriak Danang
"Oh hanya memberinya
sedikit goresan, kenapa? Kau marah?"
Ucap Renal
Ucap Renal
"Sial awas kau!"
Danang mengambil panahnya
dan menembakkannya tepat kearah Renal tapi Renal lebih dulu melompat ketempat
lain.
"BUFF"
"Sial dasar tukang
lompat!"
Gerutu Danang
Gerutu Danang
"Sudahlah ayo kita
lanjutkan latihan ini, selanjutnya!!"
Sementara itu ditempat
lain, Renal muncul didepan kamarnya dan dia sedikit tertawa jika ingat kejadian
tadi.
"Haha dasar
pecinta"
Gelak Renal
Gelak Renal
"Nal..."
Sayup sayup terdengar suara
panggilan dari dalam kamarnya, suara yang sepertinya dia pernah kenal. Renal
segera masuk kekamarnya dan betapa terkejutnya dia melihat seonggok tubuh indah
tanpa busana, dia menatap tubuh itu tanpa melewatkan satu inchi pun bagian
tubuh itu, dia menatap wajah perempuan itu.
"Jas...jasmine
kuk..kukira kau sudah..."
"Ssst. Sudahlah jangan
ingat kejadian mengerikan itu, aku disini sekarang jadi ayo melakukan hal yang
belum pernah kita lakukan dulu"
Perlahan Jasmine
mendekatkan tubuhnya ke tubuh Renal, tangannya melingkar ke leher Renal dan
dengan lembutnya bibir mereka mulai berpagutan, lidah mereka saling beradu,
pakaian Renal dengan cepatnya sudah lepas dari tubuhnya. Mulut mereka yang
masih bermain seakan tidak peduli dengan baju Renal yang sudah tanggal dari
tadi, Jasmine melepaskan ciumannya dan mendorong tubuh Renal ke kasur, lekukan
indah tubuh Jasmine membuat Renal semakin tidak mempedulikan kejadian apa saja
yang terjadi di tempat latihan yang dia pedulikan sekarang hanyalah tubuh indah
Jasmine yang berada dihadapannya. Jasmine merobohkan tubuhnya tepat diatas
Renal yang sudah terbaring dikasur, empuk payudara Jasmine sangat terasa di
atas dada Renal, mereka sedikit saling pandang lalu kembali bibir mereka
beradu. Dinginnya malam terasa panas didalam kamar Renal, kedua pasangan yang
lama terpisah itu terlihat sangat semangat melakukan hal yang dulu sempat
tertunda, berbagai gaya bercinta mereka lakukan dengan sangat panas, keringat
yang menetes dari tubuh kedua manusia itu menambah panas permainan mereka yang
tanpa disadari sudah hampir 2 jam mereka lakukan tapi ritme genjotan keduanya
bahkan tidak berkurang sedikitpun.
Tak lama setelah permainan yang sangat bergairah itu sampai puncaknya dan terhenti Jasmine membuka matanya dan memandang Renal.
Tak lama setelah permainan yang sangat bergairah itu sampai puncaknya dan terhenti Jasmine membuka matanya dan memandang Renal.
"Nal.. ikutlah dengan
kami, teman temanmu hanya akan menghancurkan rencana ayahku, jadi aku butuh
bantuanmu karena kamu sudah tau rencana mereka, please bantu aku"
Pinta Jasmine
Pinta Jasmine
"Baiklah aku kana
melakukan itu, apa sih yang enggak buat pelacurku satu ini"
Ucap Renal yang diakhiri dengan ciuman dibibir Jasmine.
Ucap Renal yang diakhiri dengan ciuman dibibir Jasmine.
Renal bangkit dan memakai
semua bajunya kembali, berjalan menuju tempat latihan yang terlihat Yuri sedang
bertarung dengan Dicky. Renal mendekat dan berpindah langsung ketempat Yuri,
Yuri yang tidak sadar akan hal itu langsung terhenti oleh dorongan Renal.
"BUUKK...SREETT"
"Hey apa yang kau
lakukan!"
Bentak Yuri
Bentak Yuri
"Oh maaf leader, aku
hanya ingin menyampaikan kalau aku keluar dari kelompokmu ini"
Ucap Renal
Ucap Renal
"Keluar? Kau tidak
bisa melakukan hal itu, kita sudah satu kelompok!"
"Heh no one can stop
me!"
Dengan cepat Yuri berpindah
ketempat Renal dan berusaha menyerangnya dengan kapaknya tapi dengan mudahnya
di tepis menggunakan angin yang dikeluarkan dari tangan Renal.
"What bagaimana
bisa?!"
Kaget Yuri
Kaget Yuri
"Aku sudah bilang aku
keluar, jadi jangan menghalangiku!"
"Tapi kenapa kamu tega
melakukan hal itu!"
Tanya Irma dari jauh
Tanya Irma dari jauh
"Heh none of your
problem little princess"
"Hey jaga omonganmu
anak sialan!"
Bentak Danang
Bentak Danang
"Fuck you Nang, im
out!"
Renal berjalan kearah
keluar dari tempat latihan itu, tampak samar seorang gadis menjemput Renal keluar
dari ruangan itu, Yuri menajamkan penglihatannya dan sadar sesuatu.
"JASMINE!!!"
Jasmine yang telah
menggandeng erat tangan Renal berhenti sejenak dan berciuman sebelum akhirnya
menghilang dalam sisa debu di tempat latihan itu. Yuri yang mengetahui hal itu
hanya bisa terdiam dan menatap jalan yang mereka lalui tadi, pikirannya bahkan
hampir menganggap hal itu sebagai sebuah mimpi disiang bolong tapi dia tetap
bisa merasakan sakit luka yang diakibatkan oleh serangan yang dilontarkan Renal
kepadanya, pikirannya terus berputar menghadapi berbagai masalah seperti ini
yang bahkan tidak dia duga sebelumnya. Jasmine, Kekuatan udara Renal, Sikap
mereka. Hanya hal hal itu yang sekarang memenuhi otaknya. Anggota yang lain
hanya bisa menatap dalam ke Yuri, mereka semua tidak tahu apa yang sudah
terjadi dan bahkan juga tidak berani menanyakan apa yang terjadi kepada Yuri.
Ayuni datang dan menolong
mengobati Dicky yang masih sedikit terkena serangan saat latihan tadi, belum
sempat dia berjalan kearah Yuri untuk mengobatinya juga Yuri sudah berjalan
keluar ruangan itu.
"Sebenarnya apa yang
terjadi?"
Tanya Dicky bingung
Tanya Dicky bingung
"Aku bahkan juga yakin
kalau semua yang ada disini kebingungan"
Timpal Danang
Timpal Danang
"Apa kamu tau sesuatu
Ayun?"
Tanya Irma
Tanya Irma
"Jasmine dulu juga
anggota sini tapi entah kenapa dia tiba tiba hilang selama beberapa tahun"
Jelas Ayuni
Jelas Ayuni
"Mungkin kalian bisa
tanya Yuri untuk lebih jelasnya, aku tidak tau banyak karena juga termasuk baru
disini"
Lanjut Ayuni
Lanjut Ayuni
Tanpa pikir panjang Irma
segera berlari mengejar Yuri yang disusul oleh Danang dan Dicky yang juga
penasaran akan hal yang terjadi.
Mereka mencoba mencari Yuri di ruangannya tapi tidak ada disana, diruang utama juga tidak ada yang seperti dia hilang bersama angin yang mengiringi perjalanannya tadi.
Mereka mencoba mencari Yuri di ruangannya tapi tidak ada disana, diruang utama juga tidak ada yang seperti dia hilang bersama angin yang mengiringi perjalanannya tadi.
"GRUSAAK"
Terdengar suara ribut di
loteng, Danang yang masih tidak tahu suara apa itu langsung berlari menuju
loteng yang terlihat kalau Yuri sedang membongkar sebuah kardus mencari
sesuatu.
"Ah ini dia"
Gumam Yuri
Gumam Yuri
"Yur, apa kau tidak
ingin jelaskan kepada kami apa yang sedang terjadi disini?"
Ucap Irma
Ucap Irma
"Ya kami terlihat
seperti anak kecil yang tidak tahu apa apa disini"
Lanjut Dicky
Lanjut Dicky
"Akan kuceritakan
semuanya diruang utama"
Jawab Yuri
Jawab Yuri
"Baiklah kami akan
menunggumu disana, ayo guys.."
Ajak Danang
Ajak Danang
Mereka bertiga meninggalkan
Yuri yang masih terdiam dengan sebuah foto lama ditangannya, matanya
menyiratkan sebuah penyesalan yang sangat mendalam tapi wajahnya berusaha
menyembunyikan hal itu.
"Maaf..."
Yuri turun dari loteng dan
berjalan pelan menuju ruang utama dimana semuanya sudah menunggunya untuk
mendapatkan sebuah penjelasan atas semua hal. Yuri menarik kursinya dan duduk
diam, tidak ada yang berani menegurnya lebih dulu sebelum akhirnya Irma membuka
keheningan itu.
"Yuri ayo jelaskan apa
yang sebenarnya terjadi, kita sudah disini sekarang"
Ucap Irma
Ucap Irma
Yuri mengangkat kepalanya
dan melihat satu per satu teman temannya, dia menarik nafas panjang lalu
melemparkan foto itu ke tengah tengah meja. Semua yang berada disana berebutan
melihat foto itu, didalam foto itu terlihat Yuri, Renal, dan perempuan yang
pergi bersama Renal tadi.
"Hey Yur apa maksudnya
ini"
Tanya Danang
Tanya Danang
"Perempuan yang ada
disitu bernama Jasmine dia yang pergi bersama Renal tadi..."
Terang Yuri
Terang Yuri
"Dan dia adalah
kekasih dari Renal sebelum aku secara tidak sengaja membunuhnya"
Lanjut Yuri
Lanjut Yuri
Semua yang berada diruangan
itu terlonjak kaget mendengar ucapan Yuri tadi dan mereka mengarahkan pandangan
tidak percaya kearah Yuri.
"Tidak mungkin kalau
dia sudah meninggal kenapa dia bisa berada disini dan menjemput Renal
pergi"
Ucap Dicky tidak percaya
Ucap Dicky tidak percaya
"Ya belum lagi kau
juga tidak pernah cerita hal ini kepada kami"
Sambung Irma
Sambung Irma
"Karena aku tidak
ingin membahas tentang dia, dan mungkin kalian tahu kenapa sikap Renal sangat
ketus terhadapku kan? Karena hal ini juga"
Ucap Yuri
Ucap Yuri
"Dulu kami berteman
sangat dekat dan sudah menganggap seperti saudara dan saat dia mempunyai
kekasih aku juga sangat mendukungnya dan kami mendirikan sebuah kelompok ini,
kelompok yang bertugas sebagai penghilang kejahatan dan ketidakadilan yang
pendirinya Aku, Renal, Jasmine dan juga juru komputer kita Indry yang kami beri
nama Creed Squad, tapi pada malam itu sebuah penyerangan Terjadi dan sebuah
peluru mengarah kepada Jasmine yang sengaja aku dorong untuk menyelamatkannya
tapi dia terdorong terlalu jauh dan jatuh dari lantai atas gedung, Renal yang
melihat aku mendorongnya mengira aku membunuhnya dengan sengaja dan sangat
marah padaku juga tidak pernah mengikuti kata kataku lagi sejak saat itu dan
bersifat sangat kasar seperti yang kalian tahu"
"Tapi aku tidak tahu
kenapa setelah sekian lama Jasmine muncul kembali dan membawa Renal pergi dari
kelompok"
Lanjut Yuri
Lanjut Yuri
"Itu bukan
Jasmine"
Sebuah suara datang dari
balik pintu, terlihat Indry yang sedang membawa beberapa gulungan rekaman
kamera pengintai berdiri disana, wajahnya menyiratkan ada sesuatu yang tidak
baik sedang terjadi.
"Apa maksudmu
Ndri?"
Tanya Ayuni
Tanya Ayuni
"Aku sudah periksa
semua rekaman ini dan dari salah satunya terlihat kalau itu bukan Jasmine"
Jelas Indry
Jelas Indry
"Ndri cepat
tunjukkan!"
Suruh Yuri
Suruh Yuri
Indry berjalan kearah
komputernya dan memasukkan rekaman itu.
"Lihat di bagian ini
sebenarnya dia bukan Jasmine tapi orang lain dan dengan sekejap dia berubah
menjadi Jasmine"
Tunjuk Indry
Tunjuk Indry
"Lalu apa pendapatmu
Yur?"
Tanya Ayuni
Tanya Ayuni
"Mutan"
Ucap Yuri lirih
Ucap Yuri lirih
"Mutan? Maksudmu seperti
didalam film X-men? Bukankah mereka tidak benar benar ada"
Tanya Dicky
Tanya Dicky
"Mereka ada dan ini
adalah salah satunya, dan apa kau juga pernah berpikir kalau sebuah cincin bisa
memberimu kekuatan seperti dalam film Green Lantern?"
Jawab Yuri sedikit mengejek
Jawab Yuri sedikit mengejek
"Ow okay dalam hal ini
semua jadi masuk akal"
Ucap Dicky
Ucap Dicky
"Jika salah satu dari
mereka tau tempat ini berarti tempat ini sudah tidak aman lagi, guys cepat
angkut semua barang kalian dan persenjataan kalian kita pindah dari sini"
Perintah Yuri
Perintah Yuri
Semua segera kembali ke
kamar masing masing meninggalkan Yuri dan Indry yang masih meneliti semua
rekaman itu, Dicky yang masih sedikit bingung dengan kejadian itu hanya
mengikuti arahan yang diberikan Yuri karena berpikir dirinya akan selamat jika
mengikuti perkataannya.
"SUUIIT"
Sebuah siulan masuk kedalam
telinga Dicky, dia berhenti dan menoleh mencari dari mana suara itu berasal.
"Dick...
Dicky..."
Dicky makin bingung
mendengar ada yang memanggil namanya, dia sedikit berjalan mendekati suara itu
tapi langkahnya seperti sedikit ragu dengan suara itu.
Seorang perempuan berdiri didepan Dicky dan berjalan pergi darinya, Dicky yang melihat hal itu segera berlari mengejarnya sampai mereka berada dibelakang gedung ini. Perempuan tadi berjalan mendekati Dicky, Dicky yang sedikit bingung ingin berbuat apa hanya berdiri kaku melihat seorang perempuan cantik mendekatinya, perempuan itu terus berjalan dan tidak berhenti sampai wajah mereka hanya berjarak 10 cm, hembusan nafas mereka bisa mereka rasakan di antara wajah mereka, Dicky tetap terdiam kaku melihat perempuan itu begitu dekat dengannya, sang perempuan sedikit menggodanya dengan tatapan manja dan memulai percakapan.
Seorang perempuan berdiri didepan Dicky dan berjalan pergi darinya, Dicky yang melihat hal itu segera berlari mengejarnya sampai mereka berada dibelakang gedung ini. Perempuan tadi berjalan mendekati Dicky, Dicky yang sedikit bingung ingin berbuat apa hanya berdiri kaku melihat seorang perempuan cantik mendekatinya, perempuan itu terus berjalan dan tidak berhenti sampai wajah mereka hanya berjarak 10 cm, hembusan nafas mereka bisa mereka rasakan di antara wajah mereka, Dicky tetap terdiam kaku melihat perempuan itu begitu dekat dengannya, sang perempuan sedikit menggodanya dengan tatapan manja dan memulai percakapan.
"Aku Nina dan
kau?"
"D..Di..Dicky"
Jawab Dicky gemetar
Jawab Dicky gemetar
"Oh Dicky, jangan
gemetar aku tidak menggigit kok"
Ucap Nina sambil terus menggoda Dicky
Ucap Nina sambil terus menggoda Dicky
"Tapi kalau menjilat
iya"
Ucapnya lagi sambil sedikit menjilat wajah Dicky
Ucapnya lagi sambil sedikit menjilat wajah Dicky
Dicky yang masih terdiam
hanya bisa bergidik geli merasakan jilatan itu, tak lama setelah itu gadis itu
menempelkan bibirnya ke bibir Dicky, mereka saling berpagutan pelan, Dicky yang
sudah sedikit rileks dapat mengimbangi permainan dari Nina, ciuman mereka sudah
semakin liar dari sebelumnya, baju mereka juga sudah sama sama hilang dan Nina
menampilkan tubuh seksinya dihadapan Dicky, Dicky terlihat sedikit kikuk
melihat tubuh yang begitu indahnya, Nina yang mengetahui hal itu hanya tertawa
kecil lalu berjongkok didepan Dicky, tangan tangan lembutnya membuka celana
Dicky dan memelorotkan celana dalamnya juga.
"Hmm nice dick
hihihi"
Ucap Nina menggoda
Ucap Nina menggoda
Tangan tangan imutnya
memegang malu kemaluan Dicky dan sedikit mengocoknya, Dicky hanya berdiam dan
menikmati permainan tangan dari Nina dan tidak berani melihat kebawah.
"SYUUUT...CROOCK"
"ARGHH"
Sebuah panah mendarat tepat
di lengan Nina, Dicky yang kaget akan hal itu segera melihat dari arah panah
itu datang dan terlihat Irma dengan panahnya dan Yuri disampingnya, Yuri
berlari kearah Nina dan mencoba menyerangnya tapi gerakan Nina lebih lincah
dari yang diperkirakan, dengan tatapan tajam Nina menjauh dari Yuri.
"Sialan kalian
permainanku dengan dia belum selesai dan kalian sudah menggangguku!"
Ucap Nina
Ucap Nina
"Diam kau lacur, aku
tau kekuatan mutanmu adalah racun yang ada didalam dirimu dan kau berusaha
membunuh dia kan"
Ucap Yuri menunjuk Dicky
Ucap Yuri menunjuk Dicky
"What racun? Jadi
dia.... Shit tapi kami sudah berciuman"
Ucap Dicky khawatir
Ucap Dicky khawatir
"Oh dasar bodoh, cepat
pakai celana dan bajumu dan Irma akan membawamu ke Ayuni"
Belum selesai Yuri
berbicara Dicky sudah tidak sadarkan diri, wajahnya berubah menjadi sedikit
hijau dan tubuhnya kaku.
"Bye my little dick,
aku tidak ada urusan dengan kalian jadi aku pergi dadah..."
"BUFFF"
Sebuah bom asap
dilemparkannya dan seketika itu juga dia menghilang dari hadapan Yuri, Yuri
segera berjalan kearah Dicky dan mengangkat tubuh bugil Dicky dan membawanya Ke
Ayuni untuk disembuhkan.
"Dasar anak bodoh di
beri tubuh seperti itu saja sudah terperdaya"
Omel Yuri
Omel Yuri
"Ir tolong bawa
pakaian dan celana Dicky ya"
Pinta Yuri
Pinta Yuri
"Baik"
Jawab Irma singkat
Jawab Irma singkat
Yuri berjalan sedikit lebih
cepat Ke ruangan penyembuhan, setibanya disana dia segera membaringkan tubuh
Dicky dan menyerahkan sisanya ke Ayuni.
"Yun tolong keluarkan
semua racun didalam tubuh anak ini"
Suruh Yuri
Suruh Yuri
"Ya tapi kenapa dia
bugil?"
Tanya Ayuni
Tanya Ayuni
"Dia hanya sudah
terkena perangkap tubuh seksi hahahaha"
Jawab Yuri seraya tertawa
Jawab Yuri seraya tertawa
Yuri segera meninggalkan
Dicky dan menyuruh semua orang agar berkumpul kembali ke ruang utama.
"Baik kita semua
disini karena saya akan memberi info tentang kemungkinan musuh yang akan kita
hadapi sebelum menghancurkan pemerintah karena mungkin mereka juga diminta
pemerintah untuk melindungi mereka"
Jelas Yuri
Jelas Yuri
"Dimana Dicky?"
Tanya Danang
Tanya Danang
"Dia sedang diobati
oleh Ayuni di ruang penyembuhan"
Jawab Yuri
Jawab Yuri
"Yak jadi disini semua
musuh kita adalah Mutan yang berarti mereka memiliki kekuatan lebih dari
manusia biasa dan disini list anggota mereka"
Sebuah list muncul dari
layar dan tampil beberapa nama dan foto anggota dari kelompok mutan itu.
"Pertama adalah
pemimpin kelompok mereka Rahmat Evendi, dia mutan dengan kekuatan pengendali
pikiran dan bayangan. Kedua yaitu Iqbal dia hanya anak kecil tapi memiliki
pandangan laser yang bisa membunuh semua yang dilihatnya. Ketiga adalah Andi
dia adalah tukang pukul dari kelompok ini kekuatannya adalah dirinya bisa
berubah menjadi besi. Keempat adalah Roni dia memiliki sebuah sayap yang
terbuat dari besi. Kelima adalah Nina gadis dengan racun disekujur tubuhnya dan
dia baru saja meracuni Dicky jadi hati hati. Keenam adalah Naufal dia memiliki
kekuatan dengan kartunya ya bisa dibilang dia adalah gambit. Ketujuh Rivaldo
dia adalah pengendali cuaca. Kedelapan adalah Brian dia seorang pelari cepat
seperti flash. Kesembilan adalah Evendi dia seorang penembak jitu hanya itu
kekuatannya. Dan yang kesepuluh adalah Monic dia bisa berganti rupa menjadi
orang lain dan dia lah yang berhasil membuat Renal pergi dengan menyamar
sebagai Jasmine"
Jelas Yuri
Jelas Yuri
Semua yang berada disana
terdiam, mereka ragu apa akan bisa melawan para Mutan itu karena mereka baru
saja mendapat sebuah kekuatan dan masih belum bisa mengendalikannya.
"Jadi Yur kita mau apa
sekarang?"
Tanya Irma
Tanya Irma
"Kita tetap pada
rencana dan melawan mereka semua"
"Kau gila mereka sudah
ahli dalam menggunakan kekuatan mereka dan kita hanya seorang amatir yang baru
saja mendapat kekuatan!"
Ucap Irul
Ucap Irul
"Rul kau sendiri
pernah berkata kalau kekuatan sebesar apapun akan kalah dengan sebuah keyakinan
yang kuat, dan keyakinan kita pun sudah sangat kuat jadi kenapa kita harus
takut?"
Jawab Yuri
Jawab Yuri
"Ini gila bro, ini
misi bunuh diri"
Lanjut Irul
Lanjut Irul
"Aku ikut!"
Kata Irma sambil mengangkat tangannya
Kata Irma sambil mengangkat tangannya
"Wow kau bersedia ikut
aku hargai itu"
Ucap Yuri
Ucap Yuri
"Aku juga ikut, aku
gak akan biarin perempuan ikut perang sendirian"
Tambah Danang
Tambah Danang
"Oke ada lagi?"
"Aku juga"
Indry mengangkat tangannya
Indry mengangkat tangannya
"Baiklah kau berhasil
meyakinkanku"
Ucap Irul
Ucap Irul
"Hey jangan lupakan
kami"
Ayuni dan Dicky datang dari
tempat penyembuhan, Dicky terlihat lebih sehat dari pada yang dulu.
"Hey kau sudah sehat
baguslah"
"Jadi apa yang akan
kita lakukan sekarang?"
Tanya Dicky
Tanya Dicky
"Ambil barang barangmu
guys! Kita berangkat!"
Ucap Yuri
Ucap Yuri
Semuanya sudah siap dengan
barang mereka, Yuri juga sudah siap diatas pickup dan barang juga sudah
diangkut semua, mereka siap berangkat.
"Baiklah guys ucapkan
selamat tinggal pada rumah"
Ucap Irul
Ucap Irul
"Bye house....."
"BOOOM"
Rumah mereka tiba tiba
meledak, mereka semua kaget dan sedikit shock atas hal itu, mereka saling
pandang seakan tak percaya akan hal yang sudah terjadi.
"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA"
Suara tawa mengiringi meledaknya rumah
kami, Yuri terlihat sedang mencari dari mana suara itu datang dan siapa yang
membuat rumah hancur tanpa sisa sama sekali, Dicky, Irma dan yang lainnya hanya
bisa terdiam dan kaget dengan hal yang terjadi sangat cepat itu.
"YURI!!!"
Suara itu muncul dari atas pohon, Yuri
menengok keatas dan melihat seseorang dengan pemicu bom ditangannya juga
seorang gadis berada disampingnya, gelapnya malam membuat Yuri tidak bisa
melihat dengan jelas siapa yang memanggilnya tadi.
"Kau sudah tidak ada tempat
sembunyi lagi dan juga kau akan kehilangan teman temanmu sekarang
Hahahahahaha"
Sosok itu turun dengan cepatnya dan
menunjukkan senyumnya yang jahat, Yuri terbelalak kaget, matanya melotot hampir
keluar dari tempatnya mengetahui bahwa itu adalah Renal dengan jasmine palsu
disampingnya.
"Renal kenapa kau lakukan hal ini!
Kau masih bagian dari anggota!"
Ucap Yuri penuh emosi
Ucap Yuri penuh emosi
"Bagian dari anggota? Hahahaha aku
sudah keluar bodoh dan sekarang saatnya kau merasakan penderitaan seperti yang
dulu aku rasakan"
Tangan Renal menekan pemicu itu dan
seketika juga tubuh Indry hancur akibat ledakan.
"BOOOOM"
Semua mata terlihat kaget, sedih dan
marah melihat Renal berani melakukan hal yang sangat kejam pada mantan rekannya
sendiri.
"Renal! Tak akan ku biarkan
kau"
Danang berlari dan bersiap memanah Renal
tapi tangan Renal lebih cepat untuk menekan tombol selanjutnya dan hilang sudah
nama Danang saat itu.
"BOOM"
"Hahahahaha siapa mau lagi Ayolah
kembang api ini sangat menarik"
Tawa Renal mengejek
Tawa Renal mengejek
"Sialan kau dia kawanku kau
anjing!!"
Semua peralatan disitu melesat menuju
Renal dengan dikendalikan pikiran oleh Dicky, Renal sedikit terkejut melihat
hal yang spontan itu terjadi tapi dengan ketenangan dia bisa membalikan
keadaan. Semua benda yang terbang kearahnya berbalik arah menyerang Dicky dan
Irul saat itu juga.
"JLEB....CROOCK...CRASHH.."
Darah terciprat ke segala arah, potongan
tubuh terhambur keluar dan pemandangan mengerikan lainnya menjadi bagian yang
sangat menyenangkan dimata Renal, dia dan Jasmine menikmati acara itu mata
mereka saling memandang dan bibir mereka berciuman sebelum akhirnya meledakkan
tubuh Ayuni.
"BOOMMM"
"Hahahaha sangat menyenangkan betul
kan saudaraku"
Ucap Renal menatap tajam Yuri
Ucap Renal menatap tajam Yuri
"Oh ya aku lupa kalau masih ada
sang putri disini"
Renal mengalihkan pandangannya ke arah
Irma yang mundur sedikit demi sedikit karena ketakutan, matanya berkaca kaca
melihat semua temannya mati dengan cara yang sangat mengerikan didalam
kepalanya hanya ada pikiran kalau dia juga akan menjadi korban selanjutnya
kapanpun itu. Renal sedikit mendekat kearah Irma tapi dihadang oleh tubuh Yuri
didepannya.
"Ayolah nal aku tidak ingin
menyakiti temanku sendiri"
Ucap Yuri mencoba meyakinkan
Ucap Yuri mencoba meyakinkan
"Hahaha minggir kau bodoh!"
"CROCCKK"
Tangan Renal yang memegang pisau secara
otomatis menusukkannya tepat di jantung Yuri, Yuri yang telat menyadari hal itu
langsung jatuh tersungkur dengan darah yang terus mengucur dengan derasnya dan
tanpa menunggu lama dia sudah mati kehabisan darah.
Sekarang hanya sisa Renal dengan senyum
kejamnya berjalan pelan tapi pasti kearah Irma yang sudah kaku tidak bisa
melakukan apapun saat itu, didalam matanya hanya terlihat ketakutan yang sangat
dalam seperti ingin menangisi nasibnya saat itu, dia tidak bisa melakukan
apapun lagi mulutnya terkunci dan seluruh tubuhnya terbujur kaku melihat
tatapan Renal yang sangat menusuk.
"Well tuan putri apa kau ada
permintaan terakhir sebelum kau juga menjemput mereka semua?"
Tanya Renal
Tanya Renal
"Kau tidak bisa lari dari
kesalahanmu dan membunuh semua temanmu seperti ini karena kau sudah kembali
dengan pacar sialanmu itu!"
Renal terlihat diam tapi dari matanya
tersirat amarah yang sangat dalam disana, tapi dia tetap mencoba menahannya.
"Kau tau kalau semua ini teman
temanmu dan mereka semua ingin membawamu kembali lagi karena kita semua ini
keluarga!! Walaupun Yuri bukan pemimpin yang baik tapi dia punya keinginan
untuk membawamu kembali karena tidak ingin ada anggota keluarga keluar begitu
saja hanya karena pacarmu bangkit dari kematiannya dan bahkan kau dengan keji
berani membunuh seseorang yang spesial bagiku!!"
Mata Renal sedikit terbelalak mendengar
kata kata terakhir yang keluar dari mulut Irma.
"Wow ternyata sang putri mempunyai
pangerannya sendiri, biar ketebak siapa dia..... Yuri? Oh sepertinya bukan,
Dicky? Hmm bukan juga... lalu...."
"Danang!!!"
Nama itu tanpa sengaja keluar dari mulut Irma
Nama itu tanpa sengaja keluar dari mulut Irma
Renal yang mengetahui hal itu menepuk
tangan dan terlihat sangat terkejut.
"Wow Hahahahahaha kau dengan dia?
Orang yang bahkan tidak bisa melempar panahnya dengan benar hahaha orang yang
benar benar lemah!"
Ucap Renal merendahkan Danang
Ucap Renal merendahkan Danang
Irma hanya terdiam mendengar semua
ejekan yang diberikan oleh Renal kepada orang yang beberapa hari terakhir
memang sangat spesial baginya.
"Well kau akan segera bertemu
dengan pangeranmu lagi Irma"
"BIP"
Tombol terakhir sudah ditekan oleh Renal
dan hal itu juga yang mengakhiri hidup Irma. Sekarang Renal tertawa gila dan
berjalan kembali kearah Jasmine, mereka terlihat sangat senang dengan
keberhasilan Renal menghapuskan semua anggota Creed Squad, mereka mengakhiri
malam itu dengan berciuman dengan sangat menggairahkan tapi tanpa Renal sadari
tangan Jasmine sudah memegang pisau yang sebelumnya dipegang oleh Renal,
tangannya dengan cepat menusuk dada Renal berulang kali dan mendorongnya
menjauh, Renal yang bahkan tidak memprediksi hal itu terjatuh kebawah dan melihat
tubuh dan wajah Jasmine berubah menjadi orang yang bahkan dia tidak ketahui
sebelum semua yang dilihatnya menjadi gelap.
"ARRGGHHHHHH JANGAN!!"
Irma terbangun dari tidurnya dan
berteriak sangat kencang yang membuat hampir seluruh pesawat kaget dan melihat
kearahnya, Danang yang mengetahui hal itu segera menenangkan Irma sedangkan
Dicky menjelaskan kepada penumpang lainnya kalau temannya hanya bermimpi buruk.
"Hey Ir kamu kenapa? Tiba tiba
bangun dan berteriak seperti itu"
Tanya Danang
Tanya Danang
Irma masih mencoba menenangkan dirinya
dan mengatur nafasnya, dia melihat sekeliling dan melihat Danang dan Dicky
masih hidup dan duduk disebelahnya.
"Kita enggak mati kan?"
Entah kenapa sebuah pertanyaan bodoh
yang justru keluar dari mulutnya, Danang yang bingung dengan pertanyaan itu
hanya tertawa kecil dan menjawab seadanya.
"Belum kita bahkan belum
mendarat"
Ujar Danang sedikit tertawa
Ujar Danang sedikit tertawa
"Hey nang kenapa tuh anak?"
Tanya Dicky kepada Danang
Tanya Dicky kepada Danang
"Gak ada apa apa dia mimpi buruk
doang udah ayo balik duduk"
Jelas Danang
Jelas Danang
"Haduh lain kali kalo mau tidur tuh
doa dulu biar kagak mimpi buruk"
Ucap Dicky dan di bareng dengan tawa Danang
Ucap Dicky dan di bareng dengan tawa Danang
Irma yang mengetahui dirinya hanya
bermimpi bisa sedikit tenang dan merasa malu karena sudah berteriak dan
bertanya hal bodoh kepada Danang, dia merapikan duduknya dan berusaha terjaga.
Tak lama pesawat yang mereka tumpangi
sudah landing di bandara Soekarno-Hatta dan bukan bandara di jogja seperti yang
terjadi di dalam mimpi Irma, Irma lega kalau memang semua itu hanya mimpi.
"Eh kan kita ada di jakarta
sekarang apa kita mau balik ke jawa timur apa mencoba menetap disini aja?"
Tanya Dicky
Tanya Dicky
"Balik aja lah Dick, udah kangen
aku sama suasana disana"
Balas Irma
Balas Irma
"Iya tuh aku juga pengen tau apa
aja yang berubah setelah 3 tahun kita gak balik kesana"
Tambah Danang
Tambah Danang
"Okelah kalo gitu kita ikuti aja
jalur yang udah disediakan buat balik ke Jatim"
Lanjut Dicky
Lanjut Dicky
Mereka bertiga berjalan mengikuti semua
tanda yang mengantar mereka pada sebuah travel yang sepertinya bertujuan ke
stasiun dan mengantarkan mereka naik kereta untuk kembali ke Jatim. Irma yang
duluan naik dan memilih tempat duduk di tengah karena masih banyak kursi yang
kosong disana, Danang menyusul Irma dan segera menempatkan dirinya disebelah
Irma lalu Dicky berada paling akhir disebelah Danang.
Keadaan Travel sudah mulai penuh dalam
waktu 5 menit dan terlihat supirnya juga sudah bersiap untuk berangkat. Mata
Irma melihat kesekeliling, didalam lebih didominasi oleh para orang tua yang
sudah 40 keatas tapi ada satu perempuan berkacamata duduk tepat diseberang
kursi Dicky dan dari gelagatnya Dicky sudah berusaha untuk berkenalan dengan
gadis itu.
"Dasar mata keranjang tu anak, liat
yang bening dikit aja udah kayak gitu"
Bisik Danang lirih
Bisik Danang lirih
Irma yang mendengar hal itu hanya
tersenyum dan seperti yang dia duga tanpa ada waktu 5 menit mereka sudah saling
kenal dan saling obrol meninggalkan dua orang temannya yang hanya terdiam di
sampingnya.
"Nang tuh dia aja baru balik ke
sini udah dapet kenalan masa kamu enggak"
Ejek Irma
Ejek Irma
"Yaelah napa juga aku cari orang
lain kalo udah ada yang deket"
Entah kata kata itu hanya sebuah gurauan
atau ada maksud tertentu tapi Irma hanya membalas dengan senyumannya.
30 menit berlalu dan tanpa mereka sadari
Travel sudah berhenti didepan stasiun kota, semua penumpang turun dengan
teratur dan dapat dilihatnya dibelakang mereka banyak orang yang bertujuan sama
yaitu Jatim. Irma dan Danang segera menegur Dicky dan bertanya tentang gadis
yang dia ajak bicara tadi dan Dicky dengan keterbukaannya menceritakan
semuanya.
"Oi gimana nih baru juga sampe ke
indonesia udah dapet cewek aja"
Ejek Danang
Ejek Danang
"Iya tuh cariin kek buat temanmu
yang itu"
Tambah Irma sambil menunjuk Danang
Tambah Irma sambil menunjuk Danang
"Hahaha emang gak boleh ya kalo aku
kenalan?"
Tanya Dicky
Tanya Dicky
"Boleh boleh aja, dasar lu
playboy"
Ejek Danang
Ejek Danang
"Udahlah kalian itu ya, eh btw
siapa tadi?"
Tanya Irma
Tanya Irma
"Namanya Indry dia tinggal di
sidoarjo juga tapi sekarang cuma sendirian soalnya ortunya juga jadi korban 3
tahun lalu"
Jelas Dicky
Jelas Dicky
Irma kaget mendengar nama yang Dicky
sebutkan, pikirannya kembali ke semua mimpinya dia berpikir apa semua ini
firasat atau memang hanya kebetulan karena dalam mimpinya semuanya terlihat
sangat nyata.
"Oi ngelamun lagi ni cewek!"
Ujar Danang mengagetkan Irma
Ujar Danang mengagetkan Irma
"Iya tuh ati ati ntar malah
kesurupan lagi hahahaha"
Tambah Dicky
Tambah Dicky
"Udah ah langsung masuk aja capek
nih"
Ucap Irma sambil berjalan cepat meninggalkan mereka
Ucap Irma sambil berjalan cepat meninggalkan mereka
"Lah main tinggal aja tuh
cewek"
Omel Dicky
Omel Dicky
"Udahlah ayok"
Ajak Danang
Ajak Danang
Mereka berdua menyusul Irma yang sudah
masuk duluan kedalam kereta, sedangkan Irma yang masih sedikit bingung tanpa
sengaja menabrak seseorang
"BRUUK"
"Eh maaf mas gak sengaja"
Ucap Irma
Ucap Irma
"Eh iya gak apa apa"
Irma mendongakkan kepala dan melihat
wajah yang ditabraknya tadi dia sedikit memincingkan matanya karena seperti
pernah tau siapa orang itu.
"Dek kenapa?"
Ucap pria tadi membuyarkan tatapan Irma
Ucap pria tadi membuyarkan tatapan Irma
"Eh maaf aku kira aku pernah
kenal"
"Oh gak apa, oh ya namanya
siapa?"
Tanya pria itu
Tanya pria itu
"Irma"
Ucap Irma sambil memajukan tangannya
Ucap Irma sambil memajukan tangannya
"Oh Irma, aku Yuri"
Jawab pria bernama Yuri itu sambil menjabat tangan Irma
Jawab pria bernama Yuri itu sambil menjabat tangan Irma
Irma menarik tangannya dan sedikit
mundur kebelakang, dia terlihat kaget dan kembali masuk kedalam ingatan
mimpinya lagi tapi sebelum dia masuk lebih dalam Dicky dan Danang sudah berada
disampingnya dan menyadarkan Irma lagi.
"eh maaf mas teman saya emang suka
gini, tiba tiba ngelamun sendiri"
Ucap Danang
Ucap Danang
"Oh ya gak apa, kalian berdua
temannya ya?"
Tanya Yuri
Tanya Yuri
"Iya mas, kenalin saya Danang dan
dia Dicky"
Kenal Danang
Kenal Danang
"Saya Yuri, saya tinggal dulu ya
jaga temanmu itu"
Ucap Yuri sambil tersenyum dan berjalan menjauh
Ucap Yuri sambil tersenyum dan berjalan menjauh
Mereka segera membawa Irma duduk dan
menaruh semua barang mereka.
"Kamu itu kenapa sih tiba tiba
langsung kaget dan ngelamun"
Tanya Dicky
Tanya Dicky
"Aku juga gak tau mungkin efek
jetlag kali"
Jawab Irma seadanya
Jawab Irma seadanya
"Yaudah sekarang kita istirahat aja
perjalanan dari jakarta ke surabaya sekitar 2 hari"
Ujar Danang
Ujar Danang
"Oke deh, aku langsung tidur aja
dan nang kalo ada cewek cantik bangunin aku yak hehe"
Ucap Dicky seraya bercanda
Ucap Dicky seraya bercanda
"Males! dasar kau!"
Perkataan Danang dibalas oleh tawa pecah
Dicky sebelum akhirnya dia benar benar tertidur, Irma masih belum bisa
menenangkan pikirannya, kejadian di mimpi dan di dunia nyata sepertinya sangat
berkaitan tapi dia masih belum bisa menjelaskan hal itu, Danang yang melihat
kalau Irma sangat gelisah segera mengajaknya bicara
"Ir kamu gak istirahat?"
Tanya Danang
Tanya Danang
"Emh aku gak bisa tidur entah
kenapa pikiranku kacau semua"
Ucap Irma
Ucap Irma
"Apa perlu aku carikan teh atau
coklat hangat buatmu?"
Tawar Danang
Tawar Danang
"Emh teh aja deh, tapi beneran nih
gak apa apa?"
"Gak apa apa kok, yang penting kamu
bisa tenang"
Ucap Danang sambil tersenyum
Ucap Danang sambil tersenyum
"Ehm iya deh maaf lho kalau
ngerepotin"
"Gak apa, tunggu ya"
Danang berjalan kearah dapur kereta
meninggalkan Irma dan Dicky yang masih tertidur disana, mata Irma melihat ke
arah Dicky yang tertidur dengan pulasnya, dia tersenyum dan sedikit tertawa
melihat ekspresi lucu Dicky yang tertidur tapi dalam sekejap ekspresinya
berubah, dia teringat semua kejadian yang ada didalam mimpinya, semua potongan
Kejadian dalam mimpinya tersusun menjadi sebuah film yang sangat sadis dan
mengerikan dan semua hal yang dilakukan oleh Renal masih terbekas didalam
pikirannya.
"IRMA!"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar