Senin, 03 Oktober 2016

Sh!t #2


Ketiga orang tadi segera kembali ke pick up mereka dan meninggalkan tempat itu secepatnya agar tidak ada yang mengikuti mereka. Dalam perjalanan Irma hanya terdiam dan melihat cincin yang ada di jarinya, dia masih kebingungan tentang apa yang terjadi dan apa sebenarnya benda yang menempel di jarinya itu. Irul yang mengetahui hal itu segera berbisik kepada Yuri agar memberitahukan semuanya.
"Ir..."
Panggil Yuri
"Ya.."
"Kamu masih bingung dengan apa yang sudah terjadikan?"
"Ya.."
Jawab Irma singkat tanpa melihat Yuri sedikitpun
"Benda yang ada ditanganmu eh maaf maksudku jarimu itu adalah proyek terbaru pemerintahan dan tentara agar negara ini bersih dari para pribuminya, caranya? Hanya dengan memakaikan cincin itu ke tentara yang terpercaya dan mereka dengan otomatis memiliki kekuatan super yang terdiri dari empat kekuatan yaitu Jumper, Cloacking, Levitation, dan Psychokinesis dan yang sedang kamu pakai itu adalah Cloacking"
Jelas Yuri
"A.. aku masih belum paham tentang kekuatan itu?"
Tanya Irma
"Cloacking yang sedang kamu pakai itu berfungsi membuat pemakainya menghilang atau tembus pandang, itu sebabnya kita dapat keluar dari sana tanpa terlihat"
"Oh..."
"Lalu Jumper itu memiliki kekuatan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya secara singkat.
Levitation dapat membuat pemakainya terbang atau melayang.
Dan Psychokinesis dapat membuat pemakainya mengendalikan semua Hal dengan pikirannya.
Lanjut Yuri
"Lalu kenapa kamu curi semua ini?"
"Heh, aku tidak ingin pribumi asli indonesia dibersihkan jadi aku ambil semua itu agar rencana pemerintah gagal dan juga kita bisa menghancurkan mereka semua"
Ucap Yuri bersemangat
"Tapi aku belum bilang setuju atas hal ini!"
Tolak Irma
Yuri menghentikan pickupnya dan menoleh kebelakang menatap Irma dalam dalam.
"Ir kamu ingat kejadian 3 tahun lalu?"
Irma terdiam...
"Kejadian dimana semua keluarga, teman, dan sahabat kita mati? Kau kira itu salah siapa? Pemerintah sudah merencanakan semua ini dan kenapa para survivor dipulangkan? Karena mereka ingin benar benar semua orang asli indonesia mati!"
Irma masih terdiam tapi dia sudah merasa sedikit gelisah.
"Kau kira tidak banyak orang yang jadi korban? Keluargamu? Sahabatmu? Bahkan temanmu Adit yang mengorbankan nyawanya hanya untuk menyelamatkan para survivor yang tersisa? Kau kira itu tidak ada harganya!"
"PLAK!!!"
Tamparan keras kembali mendarat tepat di pipi Yuri, Yuri terdiam sejenak sebelum kembali menatap Irma.
"Kau puas? Hanya dengan menamparku apa akan mengembalikan mereka yang telah mati?"
"Stop it Yur! I dont want to hear it anymore, just drive us home"
Perjalanan berlanjut tanpa ada percakapan apapun, sunyi senyap itu hal yang tergambar dari sisa perjalanan mereka. Irma yang sedikit terguncang karena perkataan Yuri tadi dan terlalu takut untuk berbicara. Yuri yang sedang fokus menyetir juga tidak ingin mengeluarkan satu patah kata dari mulutnya dan Irul tidak mau menambah buruk keadaan dengan berbicara.
Tak terasa mereka sudah sampai didepan tempat persembunyian mereka, dengan cepat Irma turun dan berlari menuju kamarnya, yang tanpa sadar dia menabrak tubuh Danang yang berdiri didepan pintu.
"BRAAK"
"Irma hey kau tak apa apa?"
Tanpa menjawab dia langsung berlari kembali kekamarnya, Danang yang hanya bingung melihat kejadian itu mendatangi Yuri dan bertanya beberapa hal.
"Hey kenapa dia?"
Tanya Danang
"Aku juga tidak begitu paham dia terlalu rapuh dan gampang sekali down karena beberapa perkataan"
Jawab Yuri
"Ow.. lalu benda apa yang kau bawa pulang itu?"
"Hanya beberapa senjata dan benda"
"Bisa kau bantu Irul membawanya kedalam? Aku akan memanggil yang lainnya untuk berkumpul ke ruang utama"
"Baiklah"
Yuri masuk kedalam rumah meninggalkan Danang dan Irul yang membawa benda yang sudah mereka curi itu. Yuri memanggil semua orang untuk berkumpul ke ruang utama tak terkecuali Irma, Yuri berjalan menuju kamarnya berusaha membujuknya agar mau keluar dan berkumpul.
"TOK...TOK...TOK"
"Irma jika kau tidak keberatan bisakah kau bergabung dengan kami di ruang utama?"
Ruangan itu sunyi senyap, Irma yang berada didalam masih terlalu takut untuk menjawab atau keluar Dia hanya mendengarkan dari dalam.
"Tolonglah bergabung dengan kami, ada hal penting yang ingin aku sampaikan, ya jika kau tidak menjawab hanya pastikan kau ikut berkumpul 10 menit lagi"
Yuri meninggalkan ruangan itu dan berjalan ke ruang utama menunggu yang lainnya berkumpul, Irma yang masih ada didalam sedikit mengalami perang antara hati dan pikiran, hatinya berkata hal buruk akan terjadi jika melakukan apa yang direncanakan Yuri tapi pikirannya berpikir kalau apa yang Yuri katakan itu memang harus dilakukan karena sudah banyak juga yang berkorban untuk hal ini.
Pintu kamar Irma kembali berbunyi, Danang yang berada diluar mencoba meyakinkan Irma kembali agar keluar dan bergabung.
"Ir bisa ikut bergabung dengan kami?"
Pinta Danang
"KRIEEK"
Pintu Irma terbuka dengan Irma yang berada dibelakangnya, dia sedikit tersenyum dan mengiyakan ajakan Danang untuk bergabung ke ruang tengah, di ruang tengah semua sudah berkumpul dan mereka juga sudah menunggu agar Semua yang ada sudah berkumpul dan duduk di kursi masing masing, Yuri menarik nafas panjang sebelum berbicara lalu melihat mereka semua satu per satu.
"Baiklah, mungkin semua yang ada disini sudah tahu tentang rencana mencuri sesuatu dari markas tentara, dan ini lah benda itu"
Yuri mengeluarkan benda yang berada dalam kotak keatas meja semua yang berada disana melihat benda itu dengan sedikit keheranan.
"Well jadi kau ke markas tentara hanya untuk mencuri beberapa akik mereka? Well nice leader"
Ucap Renal
"Ini buka sekedar cincin biasa cincin ini bisa memberimu kekuatan, jika tidak percaya Irma sudah memakainya dan dia menyelamatkan kami semua"
"Ir coba tunjukan kekuatanmu"
Pinta Yuri
"Ba..baik"
"Cloacking!"
Seketika tubuh Irma menjadi tembus pandang, semua yang berada diruangan itu terperanjat kaget dengan kekuatan yang sudah dimunculkan Irma tadi.
"Baiklah Ir muncullah lagi"
"Off!"
Tubuh Irma kembali terlihat, lalu semua sedikit kebingungan dengan hal itu.
"Jangan bingung aku akan menjelaskan semua ini, tapi sebelum itu siapa yang setuju kalau kita akan menggunakan kekuatan ini untuk melawan pemerintahan dan menyelamatkan pribumi asli negara ini?"
Semua orang mengangkat tangannya tak terkecuali Irma yang sebelumnya tidak menyetujui hal ini.
"Baiklah terimakasih untuk semuanya, oke disini ada 8 cincin minus 1 karena sudah dipakai Irma jadi tinggal 7 cincin. Cincin ini mempunyai kekuatan tersendiri tapi hanya ada empat macam kekuatan. Jumper, Levitation, Psychokinesis, dan Cloacking seperti yang dipakai Irma. Jumper bisa membuat pemakainya berpindah tempat dengan cepat, Levitation membuat pemakainya bisa terbang atau melayang, Psychokinesis dapat membuat pemakainya mengendalikan benda dengan pikirannya, dan Cloacking seperti yang sudah kalian lihat dapat membuat hilang penggunanya."
"Jadi dengan semua kekuatan ini kita bisa mengalahkan pemerintahan?"
Tanya Indry
"Atau bisa mengendalikan dunia hahahaha"
Tambah Renal
"Ya seperti itu, jadi pilihlah kekuatan kalian dan bersiap ke ruang latihan dibelakang"
Suruh Yuri
Semua yang berada disana mengambil cincin masing masing dan pergi ke tempat latihan seperti yang di perintahkan.
"Hey tapi sebelum itu ambil juga senjata disini"
Tambah Yuri
Semua orang sudah mempunyai cincin dan senjata yang sudah dipilih dan bersiap di tengah tengah tempat latihan.
"Semoga saja tidak ada yang mati disini"
Ucap Renal
"Apa kalian tidak takut untuk bertarung dengan satu sama lainnya walau ini cuma latihan?"
Tanya Irma
"Haha untuk apa takut, kita bahkan tidak tahu siapa yang akan kita lawan dan juga siapa musuh kita"
Ucap Renal
"Tapi lama sekali Yuri"
Ucap Danang
Tak lama Yuri datang dengan Dicky , dia terlihat sehat tak terlihat seperti habis terkena granat.
"Well the deadman is wake now"
Ejek Renal
"Apa semua sudah berkumpul?"
Tanya Yuri
"Sudah"
"Baik kita mulai saja, dan peraturannya hanya satu, tidak boleh membunuh hanya itu"
Jelas Yuri
"Hanya itu? Hah tidak seru"
Sindir Renal
"Hey satu kali lagi kau berbicara aku sobek mulutmu"
Bentak Dicky
"Ow im scare"
"Sudahlah kalian!, ayo masing masing orang ambil satu undian, yang nomernya sama maka dia yang bertarung"
Ucap Yuri
Mereka semua mengambil nomer dan membukanya, semuanya saling pandang dan menyebutkan nomer yang didapat agar tahu siapa yang menjadi lawannya.
"Wow aku melawan sang princess hahaha"
Ucap Dimas yang memiliki nomer sama seperti Irma
"Baiklah yang dapat nomer satu segera maju kedepan"
Danang dan Irul maju kedepan dan sudah bersiap di sisi masing masing.
"Oke ingat peraturannya, ini antara Cloacking melawan Psychokinesis dan antara panah melawan katana. Kalian siap, fight!"
Danang dengan cepat segera menghilang dari pandangan Irul, Irul yang sedikit kebingungan mencoba berkonsentrasi terhadap sekelilingnya.
"WUUSSHH"
"STASSH"
Sebuah anak panah mendarat tepat di lengan Irul, Irul sedikit menahan rasa sakitnya. Dia kembali berkonsentrasi dan mencoba menunggu panah yang lainnya datang.
"WUSSHH...WUSHH...WUUSSSH"
Anak panah bermunculan dengan cepatnya melukai tubuh Irul, Irul yang terdiam dan berkonsentrasi sebelum dia melempar sesuatu.
"There!"
"GRUDUK...WUSSSH"
Benda benda yang ada disekitar tempat latihan itu melayang tepat kearah Danang.
"BRAAKK UGHH"
Danang sudah terlihat dan muncul karena terkena hantaman benda benda tadi, Irul berjalan mendekat dan menempelkan mata Katananya di leher Danang.
"Oke aku menyerah"
Ucap Danang
Mereka segera menepi dan menuju tempat istirahat untuk mengobati semua lukanya.
"Oke nomer dua maju kedepan"
"Oke princess berdoalah agar aku tidak membunuhmu"
Sindir Renal
Irma yang mendengar hal itu sedikit ketakutan tapi tetap berusaha tenang.
"Baiklah ingat peraturannya jangan membunuh, pertarungan antara Cloacking dengan Jumper, Panah dengan Dagger, siap? Fight!"
Irma belajar untuk sedikit mengulur waktu Renal dan tidak menghilang seperti yang dilakukan Danang, Renal juga terlihat sangat santai bahkan terlihat tidak bernafsu untuk melawan gadis kecil itu.
"Ayolah menghilang dan beri aku sedikit tembakan panahmu, aku bosan disini"
Ucap Renal
"Cloacking!"
Irma dengan cepat menghilang dan menembakkan anak panahnya dari samping Renal.
"WUSH..."
"CRING"
Renal menepis anak panah itu dengan daggernya dan melakukan perpindahan tempat ke arah kiri dirinya.
"BUUFF"
"Sudahlah menyerah aku sudah memegangmu"
Ucap Renal
"Sial bagaimana kau tau?"
"Gerakanmu sangat mudah dibaca"
Irma kembali terlihat sedang berada dalam cekikan Renal, Renal melepaskan tangannya tapi memberi sedikit luka pada tangan Irma
"CROCK"
"Auw"
"Anggap itu oleh olehku"
Ucap Renal
"Hey apa yang kau lakukan!"
Teriak Danang
"Oh hanya memberinya sedikit goresan, kenapa? Kau marah?"
Ucap Renal
"Sial awas kau!"
Danang mengambil panahnya dan menembakkannya tepat kearah Renal tapi Renal lebih dulu melompat ketempat lain.
"BUFF"
"Sial dasar tukang lompat!"
Gerutu Danang
"Sudahlah ayo kita lanjutkan latihan ini, selanjutnya!!"
Sementara itu ditempat lain, Renal muncul didepan kamarnya dan dia sedikit tertawa jika ingat kejadian tadi.
"Haha dasar pecinta"
Gelak Renal
"Nal..."
Sayup sayup terdengar suara panggilan dari dalam kamarnya, suara yang sepertinya dia pernah kenal. Renal segera masuk kekamarnya dan betapa terkejutnya dia melihat seonggok tubuh indah tanpa busana, dia menatap tubuh itu tanpa melewatkan satu inchi pun bagian tubuh itu, dia menatap wajah perempuan itu.
"Jas...jasmine kuk..kukira kau sudah..."
"Ssst. Sudahlah jangan ingat kejadian mengerikan itu, aku disini sekarang jadi ayo melakukan hal yang belum pernah kita lakukan dulu"
Perlahan Jasmine mendekatkan tubuhnya ke tubuh Renal, tangannya melingkar ke leher Renal dan dengan lembutnya bibir mereka mulai berpagutan, lidah mereka saling beradu, pakaian Renal dengan cepatnya sudah lepas dari tubuhnya. Mulut mereka yang masih bermain seakan tidak peduli dengan baju Renal yang sudah tanggal dari tadi, Jasmine melepaskan ciumannya dan mendorong tubuh Renal ke kasur, lekukan indah tubuh Jasmine membuat Renal semakin tidak mempedulikan kejadian apa saja yang terjadi di tempat latihan yang dia pedulikan sekarang hanyalah tubuh indah Jasmine yang berada dihadapannya. Jasmine merobohkan tubuhnya tepat diatas Renal yang sudah terbaring dikasur, empuk payudara Jasmine sangat terasa di atas dada Renal, mereka sedikit saling pandang lalu kembali bibir mereka beradu. Dinginnya malam terasa panas didalam kamar Renal, kedua pasangan yang lama terpisah itu terlihat sangat semangat melakukan hal yang dulu sempat tertunda, berbagai gaya bercinta mereka lakukan dengan sangat panas, keringat yang menetes dari tubuh kedua manusia itu menambah panas permainan mereka yang tanpa disadari sudah hampir 2 jam mereka lakukan tapi ritme genjotan keduanya bahkan tidak berkurang sedikitpun.
Tak lama setelah permainan yang sangat bergairah itu sampai puncaknya dan terhenti Jasmine membuka matanya dan memandang Renal.
"Nal.. ikutlah dengan kami, teman temanmu hanya akan menghancurkan rencana ayahku, jadi aku butuh bantuanmu karena kamu sudah tau rencana mereka, please bantu aku"
Pinta Jasmine
"Baiklah aku kana melakukan itu, apa sih yang enggak buat pelacurku satu ini"
Ucap Renal yang diakhiri dengan ciuman dibibir Jasmine.
Renal bangkit dan memakai semua bajunya kembali, berjalan menuju tempat latihan yang terlihat Yuri sedang bertarung dengan Dicky. Renal mendekat dan berpindah langsung ketempat Yuri, Yuri yang tidak sadar akan hal itu langsung terhenti oleh dorongan Renal.
"BUUKK...SREETT"
"Hey apa yang kau lakukan!"
Bentak Yuri
"Oh maaf leader, aku hanya ingin menyampaikan kalau aku keluar dari kelompokmu ini"
Ucap Renal
"Keluar? Kau tidak bisa melakukan hal itu, kita sudah satu kelompok!"
"Heh no one can stop me!"
Dengan cepat Yuri berpindah ketempat Renal dan berusaha menyerangnya dengan kapaknya tapi dengan mudahnya di tepis menggunakan angin yang dikeluarkan dari tangan Renal.
"What bagaimana bisa?!"
Kaget Yuri
"Aku sudah bilang aku keluar, jadi jangan menghalangiku!"
"Tapi kenapa kamu tega melakukan hal itu!"
Tanya Irma dari jauh
"Heh none of your problem little princess"
"Hey jaga omonganmu anak sialan!"
Bentak Danang
"Fuck you Nang, im out!"
Renal berjalan kearah keluar dari tempat latihan itu, tampak samar seorang gadis menjemput Renal keluar dari ruangan itu, Yuri menajamkan penglihatannya dan sadar sesuatu.
"JASMINE!!!"
Jasmine yang telah menggandeng erat tangan Renal berhenti sejenak dan berciuman sebelum akhirnya menghilang dalam sisa debu di tempat latihan itu. Yuri yang mengetahui hal itu hanya bisa terdiam dan menatap jalan yang mereka lalui tadi, pikirannya bahkan hampir menganggap hal itu sebagai sebuah mimpi disiang bolong tapi dia tetap bisa merasakan sakit luka yang diakibatkan oleh serangan yang dilontarkan Renal kepadanya, pikirannya terus berputar menghadapi berbagai masalah seperti ini yang bahkan tidak dia duga sebelumnya. Jasmine, Kekuatan udara Renal, Sikap mereka. Hanya hal hal itu yang sekarang memenuhi otaknya. Anggota yang lain hanya bisa menatap dalam ke Yuri, mereka semua tidak tahu apa yang sudah terjadi dan bahkan juga tidak berani menanyakan apa yang terjadi kepada Yuri.
Ayuni datang dan menolong mengobati Dicky yang masih sedikit terkena serangan saat latihan tadi, belum sempat dia berjalan kearah Yuri untuk mengobatinya juga Yuri sudah berjalan keluar ruangan itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
Tanya Dicky bingung
"Aku bahkan juga yakin kalau semua yang ada disini kebingungan"
Timpal Danang
"Apa kamu tau sesuatu Ayun?"
Tanya Irma
"Jasmine dulu juga anggota sini tapi entah kenapa dia tiba tiba hilang selama beberapa tahun"
Jelas Ayuni
"Mungkin kalian bisa tanya Yuri untuk lebih jelasnya, aku tidak tau banyak karena juga termasuk baru disini"
Lanjut Ayuni
Tanpa pikir panjang Irma segera berlari mengejar Yuri yang disusul oleh Danang dan Dicky yang juga penasaran akan hal yang terjadi.
Mereka mencoba mencari Yuri di ruangannya tapi tidak ada disana, diruang utama juga tidak ada yang seperti dia hilang bersama angin yang mengiringi perjalanannya tadi.
"GRUSAAK"
Terdengar suara ribut di loteng, Danang yang masih tidak tahu suara apa itu langsung berlari menuju loteng yang terlihat kalau Yuri sedang membongkar sebuah kardus mencari sesuatu.
"Ah ini dia"
Gumam Yuri
"Yur, apa kau tidak ingin jelaskan kepada kami apa yang sedang terjadi disini?"
Ucap Irma
"Ya kami terlihat seperti anak kecil yang tidak tahu apa apa disini"
Lanjut Dicky
"Akan kuceritakan semuanya diruang utama"
Jawab Yuri
"Baiklah kami akan menunggumu disana, ayo guys.."
Ajak Danang
Mereka bertiga meninggalkan Yuri yang masih terdiam dengan sebuah foto lama ditangannya, matanya menyiratkan sebuah penyesalan yang sangat mendalam tapi wajahnya berusaha menyembunyikan hal itu.
"Maaf..."
Yuri turun dari loteng dan berjalan pelan menuju ruang utama dimana semuanya sudah menunggunya untuk mendapatkan sebuah penjelasan atas semua hal. Yuri menarik kursinya dan duduk diam, tidak ada yang berani menegurnya lebih dulu sebelum akhirnya Irma membuka keheningan itu.
"Yuri ayo jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, kita sudah disini sekarang"
Ucap Irma
Yuri mengangkat kepalanya dan melihat satu per satu teman temannya, dia menarik nafas panjang lalu melemparkan foto itu ke tengah tengah meja. Semua yang berada disana berebutan melihat foto itu, didalam foto itu terlihat Yuri, Renal, dan perempuan yang pergi bersama Renal tadi.
"Hey Yur apa maksudnya ini"
Tanya Danang
"Perempuan yang ada disitu bernama Jasmine dia yang pergi bersama Renal tadi..."
Terang Yuri
"Dan dia adalah kekasih dari Renal sebelum aku secara tidak sengaja membunuhnya"
Lanjut Yuri
Semua yang berada diruangan itu terlonjak kaget mendengar ucapan Yuri tadi dan mereka mengarahkan pandangan tidak percaya kearah Yuri.
"Tidak mungkin kalau dia sudah meninggal kenapa dia bisa berada disini dan menjemput Renal pergi"
Ucap Dicky tidak percaya
"Ya belum lagi kau juga tidak pernah cerita hal ini kepada kami"
Sambung Irma
"Karena aku tidak ingin membahas tentang dia, dan mungkin kalian tahu kenapa sikap Renal sangat ketus terhadapku kan? Karena hal ini juga"
Ucap Yuri
"Dulu kami berteman sangat dekat dan sudah menganggap seperti saudara dan saat dia mempunyai kekasih aku juga sangat mendukungnya dan kami mendirikan sebuah kelompok ini, kelompok yang bertugas sebagai penghilang kejahatan dan ketidakadilan yang pendirinya Aku, Renal, Jasmine dan juga juru komputer kita Indry yang kami beri nama Creed Squad, tapi pada malam itu sebuah penyerangan Terjadi dan sebuah peluru mengarah kepada Jasmine yang sengaja aku dorong untuk menyelamatkannya tapi dia terdorong terlalu jauh dan jatuh dari lantai atas gedung, Renal yang melihat aku mendorongnya mengira aku membunuhnya dengan sengaja dan sangat marah padaku juga tidak pernah mengikuti kata kataku lagi sejak saat itu dan bersifat sangat kasar seperti yang kalian tahu"
"Tapi aku tidak tahu kenapa setelah sekian lama Jasmine muncul kembali dan membawa Renal pergi dari kelompok"
Lanjut Yuri
"Itu bukan Jasmine"
Sebuah suara datang dari balik pintu, terlihat Indry yang sedang membawa beberapa gulungan rekaman kamera pengintai berdiri disana, wajahnya menyiratkan ada sesuatu yang tidak baik sedang terjadi.
"Apa maksudmu Ndri?"
Tanya Ayuni
"Aku sudah periksa semua rekaman ini dan dari salah satunya terlihat kalau itu bukan Jasmine"
Jelas Indry
"Ndri cepat tunjukkan!"
Suruh Yuri
Indry berjalan kearah komputernya dan memasukkan rekaman itu.
"Lihat di bagian ini sebenarnya dia bukan Jasmine tapi orang lain dan dengan sekejap dia berubah menjadi Jasmine"
Tunjuk Indry
"Lalu apa pendapatmu Yur?"
Tanya Ayuni
"Mutan"
Ucap Yuri lirih
"Mutan? Maksudmu seperti didalam film X-men? Bukankah mereka tidak benar benar ada"
Tanya Dicky
"Mereka ada dan ini adalah salah satunya, dan apa kau juga pernah berpikir kalau sebuah cincin bisa memberimu kekuatan seperti dalam film Green Lantern?"
Jawab Yuri sedikit mengejek
"Ow okay dalam hal ini semua jadi masuk akal"
Ucap Dicky
"Jika salah satu dari mereka tau tempat ini berarti tempat ini sudah tidak aman lagi, guys cepat angkut semua barang kalian dan persenjataan kalian kita pindah dari sini"
Perintah Yuri
Semua segera kembali ke kamar masing masing meninggalkan Yuri dan Indry yang masih meneliti semua rekaman itu, Dicky yang masih sedikit bingung dengan kejadian itu hanya mengikuti arahan yang diberikan Yuri karena berpikir dirinya akan selamat jika mengikuti perkataannya.
"SUUIIT"
Sebuah siulan masuk kedalam telinga Dicky, dia berhenti dan menoleh mencari dari mana suara itu berasal.
"Dick... Dicky..."
Dicky makin bingung mendengar ada yang memanggil namanya, dia sedikit berjalan mendekati suara itu tapi langkahnya seperti sedikit ragu dengan suara itu.
Seorang perempuan berdiri didepan Dicky dan berjalan pergi darinya, Dicky yang melihat hal itu segera berlari mengejarnya sampai mereka berada dibelakang gedung ini. Perempuan tadi berjalan mendekati Dicky, Dicky yang sedikit bingung ingin berbuat apa hanya berdiri kaku melihat seorang perempuan cantik mendekatinya, perempuan itu terus berjalan dan tidak berhenti sampai wajah mereka hanya berjarak 10 cm, hembusan nafas mereka bisa mereka rasakan di antara wajah mereka, Dicky tetap terdiam kaku melihat perempuan itu begitu dekat dengannya, sang perempuan sedikit menggodanya dengan tatapan manja dan memulai percakapan.
"Aku Nina dan kau?"
"D..Di..Dicky"
Jawab Dicky gemetar
"Oh Dicky, jangan gemetar aku tidak menggigit kok"
Ucap Nina sambil terus menggoda Dicky
"Tapi kalau menjilat iya"
Ucapnya lagi sambil sedikit menjilat wajah Dicky
Dicky yang masih terdiam hanya bisa bergidik geli merasakan jilatan itu, tak lama setelah itu gadis itu menempelkan bibirnya ke bibir Dicky, mereka saling berpagutan pelan, Dicky yang sudah sedikit rileks dapat mengimbangi permainan dari Nina, ciuman mereka sudah semakin liar dari sebelumnya, baju mereka juga sudah sama sama hilang dan Nina menampilkan tubuh seksinya dihadapan Dicky, Dicky terlihat sedikit kikuk melihat tubuh yang begitu indahnya, Nina yang mengetahui hal itu hanya tertawa kecil lalu berjongkok didepan Dicky, tangan tangan lembutnya membuka celana Dicky dan memelorotkan celana dalamnya juga.
"Hmm nice dick hihihi"
Ucap Nina menggoda
Tangan tangan imutnya memegang malu kemaluan Dicky dan sedikit mengocoknya, Dicky hanya berdiam dan menikmati permainan tangan dari Nina dan tidak berani melihat kebawah.
"SYUUUT...CROOCK"
"ARGHH"
Sebuah panah mendarat tepat di lengan Nina, Dicky yang kaget akan hal itu segera melihat dari arah panah itu datang dan terlihat Irma dengan panahnya dan Yuri disampingnya, Yuri berlari kearah Nina dan mencoba menyerangnya tapi gerakan Nina lebih lincah dari yang diperkirakan, dengan tatapan tajam Nina menjauh dari Yuri.
"Sialan kalian permainanku dengan dia belum selesai dan kalian sudah menggangguku!"
Ucap Nina
"Diam kau lacur, aku tau kekuatan mutanmu adalah racun yang ada didalam dirimu dan kau berusaha membunuh dia kan"
Ucap Yuri menunjuk Dicky
"What racun? Jadi dia.... Shit tapi kami sudah berciuman"
Ucap Dicky khawatir
"Oh dasar bodoh, cepat pakai celana dan bajumu dan Irma akan membawamu ke Ayuni"
Belum selesai Yuri berbicara Dicky sudah tidak sadarkan diri, wajahnya berubah menjadi sedikit hijau dan tubuhnya kaku.
"Bye my little dick, aku tidak ada urusan dengan kalian jadi aku pergi dadah..."
"BUFFF"
Sebuah bom asap dilemparkannya dan seketika itu juga dia menghilang dari hadapan Yuri, Yuri segera berjalan kearah Dicky dan mengangkat tubuh bugil Dicky dan membawanya Ke Ayuni untuk disembuhkan.
"Dasar anak bodoh di beri tubuh seperti itu saja sudah terperdaya"
Omel Yuri
"Ir tolong bawa pakaian dan celana Dicky ya"
Pinta Yuri
"Baik"
Jawab Irma singkat
Yuri berjalan sedikit lebih cepat Ke ruangan penyembuhan, setibanya disana dia segera membaringkan tubuh Dicky dan menyerahkan sisanya ke Ayuni.
"Yun tolong keluarkan semua racun didalam tubuh anak ini"
Suruh Yuri
"Ya tapi kenapa dia bugil?"
Tanya Ayuni
"Dia hanya sudah terkena perangkap tubuh seksi hahahaha"
Jawab Yuri seraya tertawa
Yuri segera meninggalkan Dicky dan menyuruh semua orang agar berkumpul kembali ke ruang utama.
"Baik kita semua disini karena saya akan memberi info tentang kemungkinan musuh yang akan kita hadapi sebelum menghancurkan pemerintah karena mungkin mereka juga diminta pemerintah untuk melindungi mereka"
Jelas Yuri
"Dimana Dicky?"
Tanya Danang
"Dia sedang diobati oleh Ayuni di ruang penyembuhan"
Jawab Yuri
"Yak jadi disini semua musuh kita adalah Mutan yang berarti mereka memiliki kekuatan lebih dari manusia biasa dan disini list anggota mereka"
Sebuah list muncul dari layar dan tampil beberapa nama dan foto anggota dari kelompok mutan itu.
"Pertama adalah pemimpin kelompok mereka Rahmat Evendi, dia mutan dengan kekuatan pengendali pikiran dan bayangan. Kedua yaitu Iqbal dia hanya anak kecil tapi memiliki pandangan laser yang bisa membunuh semua yang dilihatnya. Ketiga adalah Andi dia adalah tukang pukul dari kelompok ini kekuatannya adalah dirinya bisa berubah menjadi besi. Keempat adalah Roni dia memiliki sebuah sayap yang terbuat dari besi. Kelima adalah Nina gadis dengan racun disekujur tubuhnya dan dia baru saja meracuni Dicky jadi hati hati. Keenam adalah Naufal dia memiliki kekuatan dengan kartunya ya bisa dibilang dia adalah gambit. Ketujuh Rivaldo dia adalah pengendali cuaca. Kedelapan adalah Brian dia seorang pelari cepat seperti flash. Kesembilan adalah Evendi dia seorang penembak jitu hanya itu kekuatannya. Dan yang kesepuluh adalah Monic dia bisa berganti rupa menjadi orang lain dan dia lah yang berhasil membuat Renal pergi dengan menyamar sebagai Jasmine"
Jelas Yuri
Semua yang berada disana terdiam, mereka ragu apa akan bisa melawan para Mutan itu karena mereka baru saja mendapat sebuah kekuatan dan masih belum bisa mengendalikannya.
"Jadi Yur kita mau apa sekarang?"
Tanya Irma
"Kita tetap pada rencana dan melawan mereka semua"
"Kau gila mereka sudah ahli dalam menggunakan kekuatan mereka dan kita hanya seorang amatir yang baru saja mendapat kekuatan!"
Ucap Irul
"Rul kau sendiri pernah berkata kalau kekuatan sebesar apapun akan kalah dengan sebuah keyakinan yang kuat, dan keyakinan kita pun sudah sangat kuat jadi kenapa kita harus takut?"
Jawab Yuri
"Ini gila bro, ini misi bunuh diri"
Lanjut Irul
"Aku ikut!"
Kata Irma sambil mengangkat tangannya
"Wow kau bersedia ikut aku hargai itu"
Ucap Yuri
"Aku juga ikut, aku gak akan biarin perempuan ikut perang sendirian"
Tambah Danang
"Oke ada lagi?"
"Aku juga"
Indry mengangkat tangannya
"Baiklah kau berhasil meyakinkanku"
Ucap Irul
"Hey jangan lupakan kami"
Ayuni dan Dicky datang dari tempat penyembuhan, Dicky terlihat lebih sehat dari pada yang dulu.
"Hey kau sudah sehat baguslah"
"Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?"
Tanya Dicky
"Ambil barang barangmu guys! Kita berangkat!"
Ucap Yuri
Semuanya sudah siap dengan barang mereka, Yuri juga sudah siap diatas pickup dan barang juga sudah diangkut semua, mereka siap berangkat.
"Baiklah guys ucapkan selamat tinggal pada rumah"
Ucap Irul
"Bye house....."
"BOOOM"
Rumah mereka tiba tiba meledak, mereka semua kaget dan sedikit shock atas hal itu, mereka saling pandang seakan tak percaya akan hal yang sudah terjadi.
"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA"
Suara tawa mengiringi meledaknya rumah kami, Yuri terlihat sedang mencari dari mana suara itu datang dan siapa yang membuat rumah hancur tanpa sisa sama sekali, Dicky, Irma dan yang lainnya hanya bisa terdiam dan kaget dengan hal yang terjadi sangat cepat itu.
"YURI!!!"
Suara itu muncul dari atas pohon, Yuri menengok keatas dan melihat seseorang dengan pemicu bom ditangannya juga seorang gadis berada disampingnya, gelapnya malam membuat Yuri tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang memanggilnya tadi.
"Kau sudah tidak ada tempat sembunyi lagi dan juga kau akan kehilangan teman temanmu sekarang Hahahahahaha"
Sosok itu turun dengan cepatnya dan menunjukkan senyumnya yang jahat, Yuri terbelalak kaget, matanya melotot hampir keluar dari tempatnya mengetahui bahwa itu adalah Renal dengan jasmine palsu disampingnya.
"Renal kenapa kau lakukan hal ini! Kau masih bagian dari anggota!"
Ucap Yuri penuh emosi
"Bagian dari anggota? Hahahaha aku sudah keluar bodoh dan sekarang saatnya kau merasakan penderitaan seperti yang dulu aku rasakan"
Tangan Renal menekan pemicu itu dan seketika juga tubuh Indry hancur akibat ledakan.
"BOOOOM"
Semua mata terlihat kaget, sedih dan marah melihat Renal berani melakukan hal yang sangat kejam pada mantan rekannya sendiri.
"Renal! Tak akan ku biarkan kau"
Danang berlari dan bersiap memanah Renal tapi tangan Renal lebih cepat untuk menekan tombol selanjutnya dan hilang sudah nama Danang saat itu.
"BOOM"
"Hahahahaha siapa mau lagi Ayolah kembang api ini sangat menarik"
Tawa Renal mengejek
"Sialan kau dia kawanku kau anjing!!"
Semua peralatan disitu melesat menuju Renal dengan dikendalikan pikiran oleh Dicky, Renal sedikit terkejut melihat hal yang spontan itu terjadi tapi dengan ketenangan dia bisa membalikan keadaan. Semua benda yang terbang kearahnya berbalik arah menyerang Dicky dan Irul saat itu juga.
"JLEB....CROOCK...CRASHH.."
Darah terciprat ke segala arah, potongan tubuh terhambur keluar dan pemandangan mengerikan lainnya menjadi bagian yang sangat menyenangkan dimata Renal, dia dan Jasmine menikmati acara itu mata mereka saling memandang dan bibir mereka berciuman sebelum akhirnya meledakkan tubuh Ayuni.
"BOOMMM"
"Hahahaha sangat menyenangkan betul kan saudaraku"
Ucap Renal menatap tajam Yuri
"Oh ya aku lupa kalau masih ada sang putri disini"
Renal mengalihkan pandangannya ke arah Irma yang mundur sedikit demi sedikit karena ketakutan, matanya berkaca kaca melihat semua temannya mati dengan cara yang sangat mengerikan didalam kepalanya hanya ada pikiran kalau dia juga akan menjadi korban selanjutnya kapanpun itu. Renal sedikit mendekat kearah Irma tapi dihadang oleh tubuh Yuri didepannya.
"Ayolah nal aku tidak ingin menyakiti temanku sendiri"
Ucap Yuri mencoba meyakinkan
"Hahaha minggir kau bodoh!"
"CROCCKK"
Tangan Renal yang memegang pisau secara otomatis menusukkannya tepat di jantung Yuri, Yuri yang telat menyadari hal itu langsung jatuh tersungkur dengan darah yang terus mengucur dengan derasnya dan tanpa menunggu lama dia sudah mati kehabisan darah.
Sekarang hanya sisa Renal dengan senyum kejamnya berjalan pelan tapi pasti kearah Irma yang sudah kaku tidak bisa melakukan apapun saat itu, didalam matanya hanya terlihat ketakutan yang sangat dalam seperti ingin menangisi nasibnya saat itu, dia tidak bisa melakukan apapun lagi mulutnya terkunci dan seluruh tubuhnya terbujur kaku melihat tatapan Renal yang sangat menusuk.
"Well tuan putri apa kau ada permintaan terakhir sebelum kau juga menjemput mereka semua?"
Tanya Renal
"Kau tidak bisa lari dari kesalahanmu dan membunuh semua temanmu seperti ini karena kau sudah kembali dengan pacar sialanmu itu!"
Renal terlihat diam tapi dari matanya tersirat amarah yang sangat dalam disana, tapi dia tetap mencoba menahannya.
"Kau tau kalau semua ini teman temanmu dan mereka semua ingin membawamu kembali lagi karena kita semua ini keluarga!! Walaupun Yuri bukan pemimpin yang baik tapi dia punya keinginan untuk membawamu kembali karena tidak ingin ada anggota keluarga keluar begitu saja hanya karena pacarmu bangkit dari kematiannya dan bahkan kau dengan keji berani membunuh seseorang yang spesial bagiku!!"
Mata Renal sedikit terbelalak mendengar kata kata terakhir yang keluar dari mulut Irma.
"Wow ternyata sang putri mempunyai pangerannya sendiri, biar ketebak siapa dia..... Yuri? Oh sepertinya bukan, Dicky? Hmm bukan juga... lalu...."
"Danang!!!"
Nama itu tanpa sengaja keluar dari mulut Irma
Renal yang mengetahui hal itu menepuk tangan dan terlihat sangat terkejut.
"Wow Hahahahahaha kau dengan dia? Orang yang bahkan tidak bisa melempar panahnya dengan benar hahaha orang yang benar benar lemah!"
Ucap Renal merendahkan Danang
Irma hanya terdiam mendengar semua ejekan yang diberikan oleh Renal kepada orang yang beberapa hari terakhir memang sangat spesial baginya.
"Well kau akan segera bertemu dengan pangeranmu lagi Irma"
"BIP"
Tombol terakhir sudah ditekan oleh Renal dan hal itu juga yang mengakhiri hidup Irma. Sekarang Renal tertawa gila dan berjalan kembali kearah Jasmine, mereka terlihat sangat senang dengan keberhasilan Renal menghapuskan semua anggota Creed Squad, mereka mengakhiri malam itu dengan berciuman dengan sangat menggairahkan tapi tanpa Renal sadari tangan Jasmine sudah memegang pisau yang sebelumnya dipegang oleh Renal, tangannya dengan cepat menusuk dada Renal berulang kali dan mendorongnya menjauh, Renal yang bahkan tidak memprediksi hal itu terjatuh kebawah dan melihat tubuh dan wajah Jasmine berubah menjadi orang yang bahkan dia tidak ketahui sebelum semua yang dilihatnya menjadi gelap.
"ARRGGHHHHHH JANGAN!!"
Irma terbangun dari tidurnya dan berteriak sangat kencang yang membuat hampir seluruh pesawat kaget dan melihat kearahnya, Danang yang mengetahui hal itu segera menenangkan Irma sedangkan Dicky menjelaskan kepada penumpang lainnya kalau temannya hanya bermimpi buruk.
"Hey Ir kamu kenapa? Tiba tiba bangun dan berteriak seperti itu"
Tanya Danang
Irma masih mencoba menenangkan dirinya dan mengatur nafasnya, dia melihat sekeliling dan melihat Danang dan Dicky masih hidup dan duduk disebelahnya.
"Kita enggak mati kan?"
Entah kenapa sebuah pertanyaan bodoh yang justru keluar dari mulutnya, Danang yang bingung dengan pertanyaan itu hanya tertawa kecil dan menjawab seadanya.
"Belum kita bahkan belum mendarat"
Ujar Danang sedikit tertawa
"Hey nang kenapa tuh anak?"
Tanya Dicky kepada Danang
"Gak ada apa apa dia mimpi buruk doang udah ayo balik duduk"
Jelas Danang
"Haduh lain kali kalo mau tidur tuh doa dulu biar kagak mimpi buruk"
Ucap Dicky dan di bareng dengan tawa Danang
Irma yang mengetahui dirinya hanya bermimpi bisa sedikit tenang dan merasa malu karena sudah berteriak dan bertanya hal bodoh kepada Danang, dia merapikan duduknya dan berusaha terjaga.
Tak lama pesawat yang mereka tumpangi sudah landing di bandara Soekarno-Hatta dan bukan bandara di jogja seperti yang terjadi di dalam mimpi Irma, Irma lega kalau memang semua itu hanya mimpi.
"Eh kan kita ada di jakarta sekarang apa kita mau balik ke jawa timur apa mencoba menetap disini aja?"
Tanya Dicky
"Balik aja lah Dick, udah kangen aku sama suasana disana"
Balas Irma
"Iya tuh aku juga pengen tau apa aja yang berubah setelah 3 tahun kita gak balik kesana"
Tambah Danang
"Okelah kalo gitu kita ikuti aja jalur yang udah disediakan buat balik ke Jatim"
Lanjut Dicky
Mereka bertiga berjalan mengikuti semua tanda yang mengantar mereka pada sebuah travel yang sepertinya bertujuan ke stasiun dan mengantarkan mereka naik kereta untuk kembali ke Jatim. Irma yang duluan naik dan memilih tempat duduk di tengah karena masih banyak kursi yang kosong disana, Danang menyusul Irma dan segera menempatkan dirinya disebelah Irma lalu Dicky berada paling akhir disebelah Danang.
Keadaan Travel sudah mulai penuh dalam waktu 5 menit dan terlihat supirnya juga sudah bersiap untuk berangkat. Mata Irma melihat kesekeliling, didalam lebih didominasi oleh para orang tua yang sudah 40 keatas tapi ada satu perempuan berkacamata duduk tepat diseberang kursi Dicky dan dari gelagatnya Dicky sudah berusaha untuk berkenalan dengan gadis itu.
"Dasar mata keranjang tu anak, liat yang bening dikit aja udah kayak gitu"
Bisik Danang lirih
Irma yang mendengar hal itu hanya tersenyum dan seperti yang dia duga tanpa ada waktu 5 menit mereka sudah saling kenal dan saling obrol meninggalkan dua orang temannya yang hanya terdiam di sampingnya.
"Nang tuh dia aja baru balik ke sini udah dapet kenalan masa kamu enggak"
Ejek Irma
"Yaelah napa juga aku cari orang lain kalo udah ada yang deket"
Entah kata kata itu hanya sebuah gurauan atau ada maksud tertentu tapi Irma hanya membalas dengan senyumannya.
30 menit berlalu dan tanpa mereka sadari Travel sudah berhenti didepan stasiun kota, semua penumpang turun dengan teratur dan dapat dilihatnya dibelakang mereka banyak orang yang bertujuan sama yaitu Jatim. Irma dan Danang segera menegur Dicky dan bertanya tentang gadis yang dia ajak bicara tadi dan Dicky dengan keterbukaannya menceritakan semuanya.
"Oi gimana nih baru juga sampe ke indonesia udah dapet cewek aja"
Ejek Danang
"Iya tuh cariin kek buat temanmu yang itu"
Tambah Irma sambil menunjuk Danang
"Hahaha emang gak boleh ya kalo aku kenalan?"
Tanya Dicky
"Boleh boleh aja, dasar lu playboy"
Ejek Danang
"Udahlah kalian itu ya, eh btw siapa tadi?"
Tanya Irma
"Namanya Indry dia tinggal di sidoarjo juga tapi sekarang cuma sendirian soalnya ortunya juga jadi korban 3 tahun lalu"
Jelas Dicky
Irma kaget mendengar nama yang Dicky sebutkan, pikirannya kembali ke semua mimpinya dia berpikir apa semua ini firasat atau memang hanya kebetulan karena dalam mimpinya semuanya terlihat sangat nyata.
"Oi ngelamun lagi ni cewek!"
Ujar Danang mengagetkan Irma
"Iya tuh ati ati ntar malah kesurupan lagi hahahaha"
Tambah Dicky
"Udah ah langsung masuk aja capek nih"
Ucap Irma sambil berjalan cepat meninggalkan mereka
"Lah main tinggal aja tuh cewek"
Omel Dicky
"Udahlah ayok"
Ajak Danang
Mereka berdua menyusul Irma yang sudah masuk duluan kedalam kereta, sedangkan Irma yang masih sedikit bingung tanpa sengaja menabrak seseorang
"BRUUK"
"Eh maaf mas gak sengaja"
Ucap Irma
"Eh iya gak apa apa"
Irma mendongakkan kepala dan melihat wajah yang ditabraknya tadi dia sedikit memincingkan matanya karena seperti pernah tau siapa orang itu.
"Dek kenapa?"
Ucap pria tadi membuyarkan tatapan Irma
"Eh maaf aku kira aku pernah kenal"
"Oh gak apa, oh ya namanya siapa?"
Tanya pria itu
"Irma"
Ucap Irma sambil memajukan tangannya
"Oh Irma, aku Yuri"
Jawab pria bernama Yuri itu sambil menjabat tangan Irma
Irma menarik tangannya dan sedikit mundur kebelakang, dia terlihat kaget dan kembali masuk kedalam ingatan mimpinya lagi tapi sebelum dia masuk lebih dalam Dicky dan Danang sudah berada disampingnya dan menyadarkan Irma lagi.
"eh maaf mas teman saya emang suka gini, tiba tiba ngelamun sendiri"
Ucap Danang
"Oh ya gak apa, kalian berdua temannya ya?"
Tanya Yuri
"Iya mas, kenalin saya Danang dan dia Dicky"
Kenal Danang
"Saya Yuri, saya tinggal dulu ya jaga temanmu itu"
Ucap Yuri sambil tersenyum dan berjalan menjauh
Mereka segera membawa Irma duduk dan menaruh semua barang mereka.
"Kamu itu kenapa sih tiba tiba langsung kaget dan ngelamun"
Tanya Dicky
"Aku juga gak tau mungkin efek jetlag kali"
Jawab Irma seadanya
"Yaudah sekarang kita istirahat aja perjalanan dari jakarta ke surabaya sekitar 2 hari"
Ujar Danang
"Oke deh, aku langsung tidur aja dan nang kalo ada cewek cantik bangunin aku yak hehe"
Ucap Dicky seraya bercanda
"Males! dasar kau!"
Perkataan Danang dibalas oleh tawa pecah Dicky sebelum akhirnya dia benar benar tertidur, Irma masih belum bisa menenangkan pikirannya, kejadian di mimpi dan di dunia nyata sepertinya sangat berkaitan tapi dia masih belum bisa menjelaskan hal itu, Danang yang melihat kalau Irma sangat gelisah segera mengajaknya bicara
"Ir kamu gak istirahat?"
Tanya Danang
"Emh aku gak bisa tidur entah kenapa pikiranku kacau semua"
Ucap Irma
"Apa perlu aku carikan teh atau coklat hangat buatmu?"
Tawar Danang
"Emh teh aja deh, tapi beneran nih gak apa apa?"
"Gak apa apa kok, yang penting kamu bisa tenang"
Ucap Danang sambil tersenyum
"Ehm iya deh maaf lho kalau ngerepotin"
"Gak apa, tunggu ya"
Danang berjalan kearah dapur kereta meninggalkan Irma dan Dicky yang masih tertidur disana, mata Irma melihat ke arah Dicky yang tertidur dengan pulasnya, dia tersenyum dan sedikit tertawa melihat ekspresi lucu Dicky yang tertidur tapi dalam sekejap ekspresinya berubah, dia teringat semua kejadian yang ada didalam mimpinya, semua potongan Kejadian dalam mimpinya tersusun menjadi sebuah film yang sangat sadis dan mengerikan dan semua hal yang dilakukan oleh Renal masih terbekas didalam pikirannya.
"IRMA!"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar